BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) -- Pengusaha provinsi Lampung mengkhawatirkan dampak besar dari nilai tukar dolar AS terhadap rupiah yang kian merangkak naik. Pasalnya, kondisi anjloknya nilai mata uang Indonesia yang telah menyentuh  Rp14.367 per dolar AS membuat harga bahan mentah turut meninggi yang berefek pada tingginya biaya produksi.

Ketua Umum BPD Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Lampung, Arie Nanda Djausal menjelaskan perekonomian di Bumi Ruwa Jurai ini utamanya ditopang dari sektor pertanian dan peternakan sebesar 30 persen dan industri pengolahan sebesar 20 persen. Sementara bahan baku produksinya didapati dari belanja di luar negeri.



"Bahan baku pupuk, gas, pakan ternak pada pertanian dan peternakan rata-rata didatangkan secara impor. Kemudian industri pengolahan bahan baku sparepark dan lain-lainnya impor semua. Sekarang, dollar yang merupakan mata uang untuk impor malah naik," kata Arie diruang kerjanya, Selasa (10/7/2018).

Kondisi tersebut, lanjutnya, tentunya mempengaruhi dunia usaha yang berimbas pada meningkatnya biaya produksi. Tren tersebut diakui telah terlihat sejak tahun 2017 lalu saat turunnya nilai tukar rupiah terhadap dolar ke level 13.400 dan kini sudah mencapai 14.367. Artinya, dalam setahun sudah memiliki inflasi sebesar 10 persen.

"Tingkat inflasi Lampung dan Indonesia juga tidak jauh berbeda. Tahun 2017 Indonesia berada di 3,6 persen dan Lampung berada sebesar 3,3 persen. Kondisi meroketnya nilai dolar AS itu pasti efeknya cukup besar di Lampung. Ditambah lagi dengan adanya perang dagang antara Amerika dan Tiongkok," ujarnya.

Atas situasi tersebut, Arie menginginkan masyarakat dan pemerintah dapat mencarik dan mengoptimalkan bahan baku pengganti yang murni diproduksi Indonesia. "Perang dagang dan naiknya dolar itu pasti sedikit berpengaruh kepada pemerintah," tuturnya.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR