METRO (Lampost.co)--Seorang pengusaha penggilingan padi meninggal  sesaat setelah dibawa ke mobil aparat kepolisian pada Rabu, 3 Seltember 2018 menjelang subuh.
Korban adalah Abeng (63) warga Jalan Satelit I, Kelurahan Iringmulyo, Metro. 
Dicky Tanu Brata (27), putra Abeng, kepada Lampost.co, Senin (10/9/2018) menuturkan sebelum mendatangi rumahnya, sejumlah aparat itu lebih dulu mendatangi rumah Atien Johan, keponakan Abeng, yang tinggal di Sekampung, tepatnya di depan pabrik penggilingan milik Abeng.
Sekitar pukul 03.00, mereka menggedor rumah Atien. "Waktu menggedor rumah Atien, mereka juga sampai memanjat pagar," ujar Dicky. Setelah ditemui Atien, aparat kepolisian yang jumlahnya sekitar 7 orang itu lalu meminta Atien mengantar mereka ke rumah Abeng.
Karena ketakutan, ujar Dicky, Atien yang juga karyawan di pabrik Abeng, bersedia mengantar aparat tersebut ke rumah Abeng di Metro. "Kepada Atien juga tanpa memberi tahu tujuannya dan tanpa menunjukkan surat tugas," ujar Dicky. 
Istri Abeng, Megawati, yang membukakan pintu rumah sekitar pukul 03.50, sempat bertanya kepada para tamunya, "Ada keperluan apa Pak?"
Selain itu, Megawati juga sempat memberi tahu bahwa suaminya sedang sakit dan punya penyakit jantung. Di antara tamu tersebut malah sempat bertanya, "Sudah pasang Ring belum?". "Belum," jawab Megawati.
Lalu, mereka masuk ke rumah sambil menunggu Abeng. Saat Abeng muncul, mereka langsung menanyakan padi yang dibeli Abeng pada Minggu (2/9/2018). "Mereka bilang padi itu hasil rampokan," ujar Dicky.
Abeng sempat menanyakan surat tugas aparat tersebut. "Satu di antara mereka mengeluarkan map, tetapi kami tidak diberi waktu untuk membacanya," lanjut Dicky. Saat datang ke rumah, jelas Dicky, juga tidak didampingi RT/RW setempat.
Salah satu dari mereka, ujar Dicky, juga sempat mengatakan ini adalah kasus besar yang nilai sekitar Rp29 juta. Setelah itu, mereka membawa Abeng. Baru sesaat duduk di mobil mereka, Abeng minta pindah ke mobil anaknya. Tetapi, permintaan itu tak dituruti malah aparat membentaknya, "Kamu diam saja".
Setelah itu, menurut Diki, ayahnya sesak napas dan akhirnya tak bernapas lagi. Akhirnya, buru-buru Abeng dipindah ke mobil anaknya dan dibawa ke RSU. "Di rumah sakit, dinyatakan meninggal dalam perjalanan," ujar Dicky. Siang harinya, Dicky didampingi kerabatnya melaporkan kasus itu ke Polda Lampung.
Dicky menuturkan keluarga mereka memang memiliki pabrik penggilingan padi di Sekampung, Lampung Timur. Mereka selalu membeli padi lewat agen, bukan lewat perorangan, dengan harga normal. Pada Minggu (2/9/2018), pabrik pun masih buka dan masih menerima padi dari agen. 
Informasi yang diperoleh Dicky, polisi mempermasalahkan gabah yang dibeli Abeng dari St, seorang warga Sekampung. "St itu agen yang menjual gabah. Sekarang, kabarnya dia sudah kabur. Kami tidak tahu agen mendapatkan gabah dari siapa, namanya juga pengumpul," ujar Dicky. 

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR