BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) -- Kepolisian Daerah (Polda) Lampung, hanya melakukan pemantaun terkait adanya dugaan jaringan teroris yang berada di Propvinsi Lampung, kendati Densus 88 Antiteror Mabes Polri bersama dengan Polda Lampung terus mengamankan terduga oknum yang memiliki kaitan dengan jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD).

Dirintelkam Polda Lampung Kombespol Amran Ampulembang mengatakan, polda Lampung sifatnya membantu densus dalam melakukan pengamanan untuk pemeriksaan dan klarifisikasi. Kendati Polda Lampung memiliki data simpatisan yang sudah dimonitor, namun tindakan pemeriksaan, pengunkapan, penindakan, atau klarifikasi ada di Densus 88.



"Kita sifatnya hanya melakukan backup, jadi densus yang bertindak," ujarnya kepada Lampost.co, Selasa (26/6/2018).

Memang Polda Lampung menggunakan data BNPT tahun 2017 yang disinkronkan dengan data Polda Lampung terkait adanya dugaan jaringan radikal. Data tersebut memaparkan, ada 101 warga Provinsi Lampung yang terindikasi sebagai simpatisan ISIS. Dari data tersebut, 14 orang terdeportasi, 4 orang napiter, dan 83 diduga sebagai simpatisan. Kendati Polda baru saja mengamankan H (46) di Dusun Titi Rante, Desa Rejosari, Natar, Lampung Selatan, Senin (25) siang yang lalu, tidak serta merta Polda Lampung maupun Densus fokus dalam pengamanan eks napiter.

"Ya tak mesti napiter, tergantung sejauh mana pengembangan jaringan atau perkara yang dilakukan densus, itu yang kita bantu backup nanti,"katanya.

Kemudian, Polda lebih melakukan pendataan, pengawasan, dan pemantauan hingga pencegahan oknum yang diduga terlibat paham radikal untuk melakukan tindakan yang membahayakan, atau menyebarkan paham yang mereka anut.

"Kita kan fokus juga ke deradikalisa, degan ulama, tokoh agama, dan lainnya, tiga pilar babinsa, babimkamtibmas, dan desa juga diperkuat.

Saat ini H masih dalam pemeriksaan oleh Densus 88, hingga 7x24 jam dari batas pemeriksaan awal. Amran membenarkan kalau H adalah eks napiter yang terlibat pelatihan Militer, namun ia tidak memaparkan secara rinci berapa lama ia ditahan.

"Kalau dia ada keterkaitan jaringan JAD, dan ada keterkaitan dengan pengembangan sebelumnya yang diamankan Densus," katanya.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR