TERBITNYA Perpres No. 87/2017 menjadi bukti betapa pendidikan karakter di negeri ini perlu mendapatkan perhatian penuh. Pasalnya kesejahteraan bangsa ini (ternyata) tidak cukup dipimpin dan dihuni orang-orang pintar, tetapi juga lengkap dengan karakter positif.
Karakter, menurut Lickona, berkaitan dengan konsep moral (moral knowing), sikap moral (moral feeling), dan perilaku moral (moral behavior). Artinya orang yang memiliki karakter positif (baik) mesti memiliki pengetahuan tentang kebaikan, keinginan untuk berbuat baik, dan melakukan kebaikan.
Pendidikan formal yang selama ini diikuti hampir setiap generasi muda menjadi wadah sangat baik untuk menanamkan moral knowing. Dengan mengikuti pendidikan formal, generasi muda kita dapat mengetahui dan mampu membedakan antara perbuatan positif dan negatif.
Kendati demikian, pengetahuan yang bersifat kognitif itu belum mampu mengantarkan mereka memiliki moral feeling dan moral behavior. Tumbuhnya motivasi berbuat baik sehingga para murid bisa melaksanakannya tidak cukup dengan pengetahuan tentang kebaikan bersifat kognitif.
Mereka memerlukan teladan nyata orang-orang sekitarnya, terutama dari figur otoritas. Oleh karena itu sangat relevan di setiap zaman adanya adagium 'satu teladan lebih baik daripada seribu nasihat'.
Ajakan berbuat baik dengan memberi teladan telah dibuktikan Nabi Muhammad Saw saat mengajak umat Islam mengerjakan salat. Saat itu, ia berkata, "Shalu kama raaitumuni ushalli (salatlah kalian sebagaimana aku melaksanakan salat)".
Kalimat ajakan itu tidak saja mengajarkan teori melaksanakan salat, tetapi teladan nyata yang setiap waktu dilakukan di masjid. Alhasil, umat Islam yang taat menjadi termotivasi mengerjakan salat sebagaimana yang dilakukan Nabi Muhammad.
Permasalahan di lembaga pendidikan formal selama ini ialah minimnya keteladanan berbuat baik sebagaimana yang dicontohkan Nabi Muhammad Saw itu. Justru, sekolah hanya mengajarkan teori tanpa banyak memberikan teladan.
Permasalahan itu tidak kunjung diperbaiki karena tidak semua guru memiliki kemampuan memberikan teladan baik. Bahkan, selain guru agama ataupun kewarganegaraan, banyak di antara mereka abai terhadap karakter para murid.
Gagasan penguatan pendidikan karakter (positif) bagi para murid terasa berat manakala hanya dibebankan kepada pendidikan formal karena fokus pada transformasi ilmu pengetahuan, pendidikan formal lebih banyak berperan pada upaya pembekalan moral knowing kepada siswa.
Sementara itu, moral feeling dan moral behavior lebih tepat diajarkan di lembaga pendidikan informal dan nonformal. Itu bisa terjadi karena para murid lebih banyak meniru karakter keluarga serta lingkungannya di sela-sela menjalankan pendidikan formal.
Bagi para orang tua yang memiliki kemampuan dan kemauan untuk memberi motivasi kepada anak-anak untuk berbuat kebaikan, mereka dapat mendidik anak di lingkungan keluarga. Di sinilah pendidikan informal memiliki peran penting mempraktikkan pendidikan karakter (positif) yang telah diajarkan di sekolah formal.
Selain itu mereka juga bisa memberikan pengetahuan tambahan tentang karakter yang tidak diajarkan di sekolah formal. Mereka bisa mencontoh ajakan Nabi Muhammad Saw dalam hal salat. Orang tua mengerjakan kebaikan sehingga anak-anak mengetahui dan termotivasi menirunya.
Ketika orang tua memberikan motivasi sehingga anak-anak mereka mau mengerjakan kebaikan dan menjadi kepribadian, pendidikan informal seperti itu sangat dianjurkan. Namun, kita tidak bisa menutup mata bahwa pendidikan karakter di lembaga pendidikan informal tidak semudah membalikkan telapak tangan. Begitu banyak tantangan.
Semua orang mengamini bahwa selepas sekolah formal, mayoritas orang tua siswa tidak mampu mengawasi anak-anaknya dalam bergaul. Para orang tua memiliki kesibukan berkarier serta bisnis. Jika mereka memaksakan diri mementingkan mendidik anak-anak, perekonomian keluarga akan hancur. Itu menjadi masalah baru lagi.
Bermula dari sinilah, pendidikan nonformal bisa menjadi alternatif utama pendidikan karakter anak-anak bangsa. Satu di antara pendidikan nonformal yang sangat memperhatikan pendidikan karakter ialah pondok pesantren (ponpes). Bahkan, ponpes tidak saja memberi teladan sehingga anak-anak termotivasi memiliki karakter positif, tetapi pesantren juga memiliki konsep moral sebagaimana di sekolah formal. Konsep itu tidak bertentangan dengan yang diajarkan di sekolah formal, bahkan saling menguatkan.
Dalam tataran konsep, ponpes memiliki beragam kitab akhlak dan tasawuf. Bahkan, hampir di setiap ponpes (berhaluan ahlusunah waljamaah) selalu mengajarkan kitab Ta'limul 'Alim wal Mutaalim. Kitab tersebut berisi pendidikan karakter bagi seorang pengajar dan pencari ilmu.
Kitab ini sangat pas diajarkan di kalangan generasi muda karena tidak hanya membahas karakter murid, tetapi juga guru. Dalam tinjauan psikologis, para murid akan lebih nyaman mendapat pendidikan karakter tanpa harus menjadi objek selamanya.
Dalam pengajaran moral feeling dan behavior, pesantren memiliki sosok figur otoritas. Ia adalah kiai yang memiliki karakter mulia di sisi Tuhan dan manusia. Segala apa yang dikerjakan akan ditiru seluruh murid (santri). Meski di kalangan ponpes kental dengan dasar pelaksanaan segala aktivitas, untuk meniru perilaku kiai tidak memerlukan semuanya. Hampir seluruh santri di ponpes meyakini kiainya ialah sosok yang selalu berbuat baik sehingga patut ditiru.
Dalam praktiknya, kiai di ponpes memiliki karakter sangat mulia. Mereka selalu berusaha mengisi seluruh waktu mereka untuk berbuat kebaikan. Bahkan dalam rutinitas harus memiliki nilai positif. Seorang kiai selalu menggunakan tangan kanan dalam menyantap makanan, selalu berusaha salat berjemaah lima waktu meski dalam keadaan sangat sulit.
Selain memberikan teladan baik (uswah hasanah) dalam kehidupan keseharian, kiai selalu memperhatikan perbuatan para santrinya. Selain memberikan reward kepada santri yang melakukan kebaikan, seorang kiai tidak segan memberikan takzir (punishment) kepada santri yang berperilaku negatif.
Seorang kiai tidak segan mentakzir santrinya dengan piket halaman pesantren selama satu minggu karena terbukti menggasab (menggunakan barang milik orang lain tanpa seizin pemilik dengan maksud mengembalikan kembali) sandal milik temannya.
Di ponpes tidak jarang seorang santri harus membaca Surah Yasin 11 kali karena satu kali tidak mengikuti salat jemaah. Begitu seterusnya. Di ponpes, kiai juga mengajarkan santrinya mandiri, sederhana, penuh perjuangan, serta tawakal (pasrah kepada Allah).
Dalam praktiknya, para santri (bahkan laki-laki) harus mencuci pakaian dan masak sendiri. Para santri diajak hidup mandiri, juga diajarkan tawakal kepada Allah sehingga tidak mudah mengeluh. Karena beberapa ajaran positif itu, banyak santri terbiasa belajar sungguh-sungguh dengan hati gembira (baca: tidak mengeluh) meski perut kosong dan fasilitas sederhana.
Ketika para santri yang notabene ialah generasi muda penerus bangsa sudah mendapat penguatan pendidikan karakter sebagaimana yang ada di ponpes itu, cita-cita Indonesia menjadi baldatun toyyibatun warabbun ghafur (negeri yang baik penuh dengan ampunan Tuhan) bukanlah fatamorgana. Wallahualam.

EDITOR

Isnovan Djamaludin

TAGS


KOMENTAR