KRUI (Lampost.co) -- Cuaca ekstrem gelombang tinggi tidak banyak berpengaruh kepada para petambak udang di Kabupaten Pesisir Barat, meski ada terjadi kerusakan instalasi air di beberapa tambak yang ada di kabupaten itu.

Rojak, salah seorang petambak kepada Lampost.co, Minggu (29/7/2018) mengatakan saat ini umur udang di tambaknya berkisar 24 hari, pertumbuhan udang juga relatif bagus. "Udang normal, gelombang laut pasang yang terjadi tidak banyak berpengaruh, hanya waktu ombak besar beberapa hari kemarin, kami enggak bisa sedot air untuk masuk ke tambak, besoknya sudah kembali bisa.Umurnya sekarang 24 hari," kata dia.



Yang patut diantisipasi petambak, kata dia, adalah cuaca curah hujan tinggi, pada saat daya tahan udang lemah berpotensi terserang virus penyakit. Terlebih wabah Myo yang sampai saat ini belum ada obat ampuh untuk mengatasinya dan merajalela menghantui udang para petambak. Hal itu biasa jadi penyebab susutnya hasil panen yang dapat menimbulkan kerugian para petambak, sehingga diperlukan pemeliharaan dengan ekstra hati-hati.

"Sejak tahun 2007-2008 lalu, di Lampung bukan hanya di Krui. Tetapi di Padangcermin, Kalianda, Myo sudah merajalela, sampai sekarang belum ada obat yang ampuh. Kalau penyakit udang white spot (bercak putih) meski berbahaya dalam 24 jam udang bisa habis, tetapi sudah ada cara mengatasinya," kata dia.

Akibat gelombang pasang yang terjadi di sepanjang perairan laut Pesisir Barat, kata dia, untuk wilayah bagian Selatan Kabupaten Pesisir Barat yaitu Kecamatan Pesisir Selatan, Ngambur, Ngaras dan Bangkunat terbilang aman,  meski ada kerusakan namun ringan seperti kolam tandon tempat menyedot air untuk kolam tertimbun material pasir yang dibawa oleh gelombang pasang.

"Kalau di daerah Utara Lemong, kami dapat informasi instalasi pipa air tambak rusak dan dinamo tambak rusak, " kata dia.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR