BANDAR LAMPUNG (Lampost.co)--Hajat pemilihan umum (Pemilu) 2019 esensinya harus menjadi pesta bagi masyarakat. Asas demokrasi yang semangatnya dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat harus benar-benar diwujudkan oleh para peserta pemilu dan penyelenggara pemilu.

Dalam meraih kemenangan tersebut tentunya harus melalui cara-cara yang elegant dan terhormat. Karena tidak semua pemilih di Provinsi Lampung bisa dibeli suaranya dengan mudah melalui uang.



Sesuai dengan rilis Badan Pusat Statistik Provinsi Lampung pada Agustus 2018 Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) Lampung tahun 2017 mencapai 72,01 dalam skala indeks 0 sampai 100. Angka ini mengalami kenaikan sebesar 11,01 poin dibandingkan dengan IDI Lampung 2016 yang capaiannya sebesar 61,00. Tingkat demokrasi Lampung tersebut masih termasuk dalam kategori “sedang”. 

Pengamat Politik dari Universitas Lampung, Himawan Indrajat berpendapat konstelasi pemilu untuk pemilihan anggota legislatif kemungkinan masih transaksional, karena caleg satu partai saling bersaing ditambah saingan caleg partai lain. 

"Tentu membuat caleg bisa memilih jalan pintas dan beberapa pemilih yang memang pragmatis akan menerima jalan pintas caleg tersebut," katanya kepada Lampost.co, Kamis (11/10/2018).

Ia mengatakan tidak semua pemilih yang pragmatis. Pemilih yang rasional dan kritis akan melihat rekam jejak caleg dan partainya. Apabila partai baru maka yang dilihat yakni apa yang ditawarkan dengan program-programnya.

"Ada pemilih yang memang ideologi, jadi memilih karena memang ada keterikatan emosional dan kedekatan ideologis dengan partai tertentu," kata Akademisi Ilmu Pemerintahan FISIP Unila ini.

loading...

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR