GUNUNG SUGIH (Lampost.co) -- Kembali maraknya penebangan illegal di register 22 Way Waya meresahkan warga peserta program HKM. Warga mendesak aparat penegak hukum bertindak tegas. Sementara Kapolres memastikan tak ada toleransi untuk perusak hutan.

Data yang dihimpun Lampost.co dari berbagai sumber, belakangan ini ditemukan banyak tunggul baru kayu jenis sonokeling, jati, bayur dan waru. Tak hanya itu, ditemukan juga belasan potong kayu siap pakai yang diduga berasal dari wilayah hutan lindung.



Warga peserta program HKM di register 22 Way Waya tak berani bersuara lantang karena khawatir menjadi incaran para penebang dan komplotannya. Bahkan sudah ada yang diintimidasi karena melaporkan aktivitas penebangan liar.

"Para penggarap lahan yang ikut program HKM disini takut lapor dan takut masuk ke lahan garapan mereka," kata Badri, salah satu warga sekitar register 22 yang prihatin dengan makin parahnya kerusakan hutan lindung itu, Kamis (11/10/2018).

Menurut Badri, ia melihat sendiri tunggul-tunggul kayu sono keling, jati, bayur dan waru bekas tebangan baru.

"Kami meminta aparat bertindak tegas. Warga juga sebenarnya minta begitu, tetapi mereka takut bersuara. Penebangan ini sekitar pertengahan September 2018. Warga banyak yang tahu tetapi memilih diam," tandas Badri.

Terkait DPO penebangan liar pada kasus yang sebelumnya ditangani Polres Lamteng, Kapolres AKBP Slamet Wahyudi menegaskan tetap memburu mereka. Menurut Kapolres, tidak ada toleransi untuk pengrusakan hutan. 

"Kalau memang ada, akan kami tangkap orang-orang itu (DPO.red). Tidak ada cabut DPO," tegas Kapolres kepada Lampost.co.

Statmen Kapolres ini sekaligus membantah isu pencabutan DPO atas nama Yr, Bs dan Sy yang diduga menjadi otak penebangan kayu sono keling di register 22 Way Waya. Kasus tersebut terungkap setelah sopir dan truk pengangkut kayu ditangkap dan sudah diproses di pengadilan. Para DPO ini diduga juga menjadi dalang kembali maraknya penebangan liar di register 22 Way Waya. 

 

loading...

EDITOR

Winarko

TAGS


KOMENTAR