LAMPUNG POST | lampost.co logo
2017 20 June
6534

Tags

LAMPUNG POST | Pendidikan Keluarga dan Tantangan Bonus Demografi
Ilustrasi pendidikan keluarga. mediaindonesia.com

Pendidikan Keluarga dan Tantangan Bonus Demografi

PADA 2020—2030 mendatang, Indonesia diramalkan akan mengalami ledakan bonus demografi. Kondisi itu mengisyaratkan bahwa komposisi penduduk negeri ini kelak akan didominasi oleh usia produktif (15—64 tahun) ketimbang usia nonproduktif (14—65 tahun). Agar bonus demografi tersebut mampu menyumbangkan energi positif bagi kemajuan bangsa, kesigapan dan kesiapan pemerintah jelas sangat menentukan.
Investasi harus mulai diarahkan untuk tidak sekadar berorientasi pada pembangunan fisik belaka, tetapi juga mesti mencakup pengembangan sumber daya manusia. Sebab, keberhasilan mengelola bonus demografi itu sangat berkait-paut dengan kualitas pendidikan, kesehatan, dan ketersediaan angkatan kerja. Namun, dari sekian usaha yang ditempuh, pendidikan keluarga tampaknya belum banyak mendapat perhatian. Padahal, sulit ditampik bahwa keberhasilan dalam bidang apa pun senantiasa berkorelasi dengan kehidupan keluarga.

Orang Tua Vis-à-Vis Teknologi

Pendidikan keluarga (pendidikan informal) secara resmi diakui sebagai salah satu jalur pendidikan yang pengelolaannya dipercayakan kepada keluarga atau masyarakat, sebagaimana tertuang dalam Pasal 27 UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003. Bahkan, menilik betapa pentingnya pendidikan keluarga itu sampai-sampai Ki Hadjar Dewantara dalam rumusan tri-pusat pendidikannya menempatkan pendidikan keluarga sebagai pendidikan yang paling utama. Menurut Ki Hadjar, hadirnya rasa cinta dan kasih sayang hanya dapat ditumbuh-kembangkan dalam lingkungan keluarga.
Namun, alih-alih laksana surga yang teduh nannyaman, keluarga terkadang justru menjelma bak neraka bagi anak-anak. Bagaimana tidak, laporan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) setidaknya turut membenarkan bahwa kekerasan pada anak selalu meningkat setiap tahunnya. Pada 2016 misalnya, terjadi 3.581 kasus kekerasan pada anak, naik 15% dari tahun sebelumnya. Kondisi tersebut paling tidak menyiratkan bahwa harapan akan lahirnya generasi cerdas dan berakhlak mulia nampak masih jauh panggang dari api.
Padahal, untuk menyahuti tantangan bonus demografi itu, bangsa ini tidak saja butuh generasi yang mempuni dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga memiliki jangkar keluhuran karakter dan moral yang kuat. Poin terakhir itulah yang sesungguhnya diharapkan dapat diemban keluarga. Namun, patut diakui menjadikan keluarga sebagai pusat penyemaian karakter luhur bagi anak-anak tentu bukanlah perkara gampang. Sebab, yang jadi rival utama orang tua meraih simpati anak saat ini bukanlah guru-gurunya di sekolah atau bukan pula teman-temannya, melainkan teknologi.
Betapa pun kita diuntungkan dengan akses kemudahan yang dibuahkan oleh kemajuan teknologi itu, kita juga nyatanya turut direpotkan dengan kemerosotan nilai-nilai yang ditimbulkannya. Sebab itu, tidak mengherankan bila orang tua ekstraketat mengawasi anak-anaknya. Menonton televisi mesti diatur channel-nya, membaca majalah dipilihkan jenisnya, atau menggunakan smartphone harus selalu minta izin orang tua. Lalu, dengan begitu apakah anak-anak bisa terkendali dari bujuk rayu teknologi. Sayangnya, orang tua tampak mustahil mampu manghalau rasa ingin tahu anak terhadap teknologi itu.

Mendidik Generasi Millennial

Karena itu, peta persoalan sebenarnya ialah bagaimana orang tua mampu menyikapi kemajuan teknologi agar selaras dengan perkembangan mental dan moral anak-anaknya. Apalagi yang akan menduduki pos-pos strategis pada saat bonus demografi itu mencapai titik kulminasinya adalah anak-anak yang kini berusia belasan dan puluhan. Anak-anak yang sering disebut juga sebagai generasi millennial ini tumbuh berbarengan dengan kemajuan teknologi sehingga ciri yang menonjol ialah watak serbapraktis dan cepat. Sementara di posisi lain mayoritas orang tua merupakan generasi yang terbiasa hidup sistematis dan mekanistik. Di titik inilah tarik-menarik antara anak dan orang tua acap terjadi.
Hasilnya, anak terkadang terhempas dan akhirnya memilih jalannya sendiri. Sebab itu, hal yang wajar bila anak lebih senang curhat pada “Mbah” Google ketimbang pada orang tuanya sendiri. Karena itu, agar orang tua tetap bisa mengaliri kebutuhan rohaniah sang anak—seperti kasih sayang dan kepedulian—yang mustahil mampu dipenuhi oleh secanggih apa pun teknologi, orang tua mungkin perlu mengikuti jalur pikiran anak. Sebab, umumnya anaklah yang dipaksa mengikuti pola pikir orang tua sehingga posisi anak tak ubahnya—pinjam istilah Romo Mangunwijaya—“orang dewasa mini” yang terancam akan kehilangan salah satu fase terpenting dalam hidupnya. 
Orang tua memang pantas merasa cemas tatkala menengok maraknya kejahatan berbasis siber (cyber crime) seperti penculikan, judi online, atau hate speech akhir-akhir ini. Untuk itu, orang tua dituntut terbuka untuk menyampaikan dampak negatif yang ditimbulkan jika teknologi itu disalahgunakan. Atau dalam kasus lain, ketika mengetahui anak mendapat nilai buruk di sekolah misalnya, orang tua tentu tidak perlu menyumpahserapahinya berlarut-larut. Orang tua akan lebih bijak bila bersedia mengajak anak urun-rembug sehingga dengan langkah itu, orang tua bisa memberi solusi yang tepat dan sekaligus juga dapat mengembalikan kepercayaan diri sang anak.
Akhirnya, bonus demografi adalah fenomena langka yang mungkin tidak dapat dijumpai untuk kedua kalinya dalam satu dekade. Potensi mahabesar itu tak ubahnya pisau bermata dua. Jika kita bisa memanfaatkannya, momentum itu dapat menghantarkan bangsa ini ke puncak kejayaannya. Pun sebaliknya, bila diabaikan begitu saja, potensi mahabesar itu justru malah akan memperberat beban bangsa. Bonus demografi itu akan menjadi berkah manakala kita mampu menyiapkan anak-anak bangsa yang tidak sekadar punya kecermerlangan otak, tapi juga kegemilangan watak. Dan upaya itu mungkin bisa dioptimalkan dari pendidikan keluarga.n

LAMPUNG POST
TRANSLATE

REKOMENDASI

  • LAMPUNG POST
  • LAMPUNG POST | Radio Sai 100 FM
  • LAMPUNG POST | Lampost Publishing
  • LAMPUNG POST | Event Organizer
  • LAMPUNG POST | Lampung Post Education Center
  • LAMPUNG POST | Media Indonesia
  • LAMPUNG POST | Metro Tv