LAMPUNG POST | lampost.co logo
2017 5 July
2050

Tags

LAMPUNG POST | Pendidikan Anak dan Literasi Keluarga
Ilustrasi pendidikan anak. www.ekoprasetya.com

Pendidikan Anak dan Literasi Keluarga

KELUARGA memainkan peran penting dalam pendidikan anak. Keluarga menjadi bagian tak terpisahkan dari proses pendidikan di samping sekolah. Berhasil-tidaknya pendidikan anak amat bergantung pada sejauh mana peran keluarga dalam proses pendidikan anak. Berbeda dengan pengajaran, pendidikan jauh lebih sulit, tidak cukup mengandalkan sekolah, sehingga perlu keterlibatan aktif keluarga. Selain itu, sebelum seorang anak masuk ke sekolah, keluarga adalah tempat pendidikan pertama. Dapat dikatakan, keluarga adalah tempat pertama seorang anak mengenal dunia.
Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa keluarga belum menjadi bagian penting dari proses pendidikan secara optimal. Ini terjadi bukan hanya pada keluarga yang secara ekonomi masuk kategori tidak mampu, melainkan juga kategori mampu. Keluarga terlalu mengandalkan sekolah sebagai tempat pendidikan. Pada saat yang sama, sekolah rupanya juga kerap kali tidak optimal dalam mendidik; lebih banyak mengajar. Dari pelajaran umum, agama, hingga kesenian atau yang lainnya, sekolah mampu memberikan pengajaran dengan baik sesuai kurikulum yang ditetapkan negara. Namun, tidak banyak sekolah yang mampu mendidik anak sampai tumbuh sebagai pribadi mandiri, berkarakter kuat, dan kritis.
Hal tersebut membuat anak jadi pintar dan cerdas secara ilmu pengetahuan, menguasai mata pelajaran yang diajarkan, tetapi tidak saleh secara kepribadian dan perilaku karena siswa lalai dididik dengan benar. Pada akhirnya, manusia yang lahir dari pengajaran, bukan pendidikan, kering dari nilai-nilai spiritual. Kecerdasan emosional dan spiritualnya lemah. Padahal, seseorang akan mencapai tingkat optimal kemanusiaannya ketika dapat menyelaraskan ketiga kecerdasan yang dimiliki: kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan spiritual. Pembangunan karakter (character building) tidak akan berhasil tanpa menyelaraskan tiga kecerdasan ini.
Jangan heran, orang tua saat ini masih dihadapkan dengan problem-problem penyimpangan dan kenakalan pelajar. Misalnya, konsumsi narkoba, minuman keras, seks bebas, tawuran antarpelajar atau antarsekolah, hingga tindakan kriminal yang dilakukan pelajar, baik itu terhadap teman sekolahnya sendiri maupun sekolah lain, juga tindak-tindak kekerasan lainnya. Kita bisa menemukan kenyataan miris ini di berbagai tempat.
Tidak hanya di dunia nyata, perilaku menyimpang itu juga dapat kita temukan di dunia maya seperti internet. Kemajuan teknologi internet dengan berbagai media-media sosial di dalamnya, telah ikut juga mengubah perilaku pelajar. Tidak sedikit pelajar yang masih labil itu terbawa arus tanpa kendali: suka mem-bully orang, menghakimi orang tanpa dasar pengetahuan yang memadai, memfitnah, mencaci-maki, menghina, dan sejenisnya.
Pada titik inilah, memperkuat keluarga sebagai basis pendidikan anak menjadi penting dan urgen. Tetapi, tidak semua keluarga punya semangat dan etos yang sama untuk ikut berperan dalam proses pembangunan karakter anak melalui pendidikan di rumah. Rendahnya kesadaran akan pentingnya peran keluarga dalam keberhasilan pendidikan anak menjadi penyebabnya. Rendahnya kesadaran ini sesungguhnya disebabkan rendah dan lemahnya tradisi literasi. Kirsch dan Jungeblut dalam Literacy: Profile of America’s Young Adult mendefinisikan literasi sebagai kemampuan seseorang dalam menggunakan informasi tertulis atau cetak untuk mengembangkan pengetahuan sehingga mendatangkan manfaat bagi diri dan masyarakat.

Hal Literasi

Sulzby (1986) mendefinisikan literasi sebagai kemampuan berbahasa seseorang (menyimak, berbicara, membaca, dan menulis) untuk berkomunikasi dengan cara yang berbeda sesuai dengan tujuannya. Pendek kata, literasi adalah kemampuan membaca dan menulis (Graff, 2006). Namun, seiring perubahan zaman, makna literasi berkembang. Setidaknya ada empat model literasi, menurut Freebody dan Luke: pertama, memahami konteks dalam teks; kedua, terlibat dalam memaknai teks; ketiga, menggunakan teks secara fungsional; dan keempat, melakukan analisis dan mentransformasikan teks secara kritis. Jadi, literasi tidak hanya kemampuan membaca dan menulis, tetapi bagaimana kemampuan seseorang membaca secara kritis dan menemukan maknanya, tidak tergesa-gesa mengambil kesimpulan. Untuk sampai tahap ini, tentu saja perlu proses yang tidak instan.
Central Connecticut State University di New Britain, Conn, Amerika Serikat, pernah mengadakan penelitian di bidang literasi yang hasilnya menempatkan Indonesia pada posisi 60 dari 61 negara. Indonesia hanya setingkat lebih tinggi dari Botswana, sebuah negara miskin di Afrika. Lima negara menempati posisi terbaik adalah Finlandia, Norwegia, Islandia, Denmark, dan Swedia (The Jakarta Post, 12 Maret 2016). Fakta yang tentunya menyedihkan. Ini pula barangkali yang membuat negara kita lambat sekali maju, kalah cepat dibandingkan dengan negara-negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, dan lainnya. Negara-negara maju selalu kuat tradisi literasinya, sejak kanak-kanak, dalam keluarga. Sehingga, ketika dewasa pun tradisi itu kuat melekat.
Anies Baswedan (kini Gubernur DKI Jakarta periode 2017—2022), sewaktu menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, pernah menyatakan keluarga dan orang tua merupakan pendidik terpenting untuk anak. Oleh karena itu, keluarga harus melek literasi agar terbangun mindset ilmiah. Salah satu faktor utama membentuk pola pikir itu adalah membaca. Budaya membaca harus ditumbuhkan dari rumah dan diteruskan di sekolah. Dalam Islam, misalnya, dikenal falsafah dasar kemajuan, yakni “iqra” (bacalah). Dari tradisi membaca inilah, Islam pernah menjadi peradaban besar dunia di abad pertengahan, bahkan ketika Barat (Eropa dan Amerika) masih tenggelam dalam kegelapan, mitos, legenda dan sejenisnya. Kebangkitan Barat baru dimulai setelah tradisi literasi berkembang pesat dan menguat.
Keluarga yang punya tradisi literasi kuat akan sangat membantu perkembangan anak dalam proses pendidikannya di sekolah. Anak mungkin akan bisa melampaui apa yang telah didapatkannya di sekolah. Anak yang tumbuh dalam keluarga yang punya tradisi literasi kuat akan menjadi anak yang tidak hanya pintar, cerdas, berwawasan luas, tetapi juga punya etos, kepekaan dan empati serta kepribadian yang baik dan kuat.
Ia akan menjadi pribadi yang penuh kasih terhadap sesama, toleran, terbuka, dan punya tujuan atau orientasi hidup yang lebih baik. Daya nalar yang ditopang ketajaman intuisi, kejernihan spiritual, dan kestabilan emosi, akan melahirkan kreativitas tanpa batas yang bermanfaat bagi banyak orang. Negara pun pada akhirnya akan banyak mendapatkan manfaat. Bonus demografi yang ditakutkan akan menjadi beban negara bisa jadi akan berubah jadi berkah bagi kemajuan negara di panggung internasional. n

BAGIKAN


REKOMENDASI

  • LAMPUNG POST
  • LAMPUNG POST | Radio Sai 100 FM
  • LAMPUNG POST | Lampost Publishing
  • LAMPUNG POST | Event Organizer
  • LAMPUNG POST | Lampung Post Education Center
  • LAMPUNG POST | Media Indonesia
  • LAMPUNG POST | Metro Tv