GEDUNGAIR, siang hari, sepeda motor hitam BE-4148-AX teronggok di sisi jalan dengan kondisi ringsek. Boks mesin motor itu jebol hingga olinya tercecer di aspal, garpu depannya bengkok, spatbor patah, dan lampu motornya pecah bertaburan di tengah jalan.

Sepeda motor itu menjadi korban tabrak lari komplotan penjambret yang kabur usai beraksi di Pasar Tengah, Bandar Lampung. Saat itu, korban sudah tidak ada di lokasi karena warga dengan sigap membawanya ke rumah sakit. Namun, dari keterangan saksi, pengendara itu adalah seorang bapak yang sudah cukup tua. Usut punya usut, bapak itu bernama Jony Efendy, warga Telukbetung, yang sudah berusia 72 tahun.



Satu hal yang tak luput dari perhatian, barang dagangannya juga ikut bertaburan. Di tepi kotak tempat menaruh dagangannya, tertulis “Es Stik Aneka Rasa Rp2.000”. Ada emosi yang membuncah saat memandangi kotak kayu berwarna hijau yang tergolek di pinggir jalan itu.

Di sana tersirat perjuangan seorang bapak gigih mencari nafkah demi kebutuhan keluarganya. Tekadnya bekerja demi sesuap nasi untuk keluarganya tak surut meski ia telah menginjak usia senja. Sepeda motor itu menjadi saksi bisu atas perjuangannya mengitari jalanan kota untuk menjajakan es. Nahas, pelaku tak bertanggung jawab memupuskan laju roda motor si bapak meraup rezeki di siang itu.

Terbayang senyum sang cucu yang menunggu kakeknya memberi beberapa lembar uang untuk mereka jajan. Terbayang pula sang istri yang mungkin sudah menunggu menyiapkan makan untuk si bapak di rumah. Sungguh memilukan! Semoga cepat pulih, Pak!

Musibah ini mengingatkan kita akan perjuangan ayah memenuhi seabrek keperluan rumah tangganya. Tanpa mengenal letih, tanpa mengenal waktu, dan tanpa mengenal bahaya, sang ayah bertekad keras memenuhi kewajibannya. Ajaibnya, meski letih mendera, senyum dari sang anak dan istri begitu mujarab meredakan rasa capeknya.

Saya memutar ingatan ke belakang. Abah saya juga seorang pedagang. Minyak tanah, ikan, sayur, roti, sembako, bubur, hingga es dawet pernah dia jual. Hingga usia 70 tahun, abah masih gigih berdagang. Kami, anak-anaknya, berusaha merayunya berhenti bekerja. Dia menolak. Namun, anak-anaknya berkeras untuk tetap memintanya berhenti.

Abah mengalah. Namun, setelah seminggu berhenti bekerja, badan si abah malah lemas. Dari kejadian ini, kami paham mengapa orang yang sudah usia lanjut enggan berhenti bekerja. Ternyata, bukan semata karena penghasilan, melainkan juga karena kebiasaan. Berhenti setelah berpuluh-puluh tahun bergerak sana-sini justru menyiksanya.

Kami tak lagi membatasi abah bergerak. Walau tak lagi berdagang, kini dia punya kesibukan bercocok tanam di sepetak tanah di sekitar rumah. Abah pun segar kembali. Saat anak dan cucunya menyambang, suguhan singkong rebus hangat hasil berkebunnya kerap tersaji untuk menemani kami menyeruput kopi bersama.  

 

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR