BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) -- Kasus pencurian dengan pemberatan dengan terlapor Yeni Puspa Sari dan Arief Marwoto terus bergulir. Kasat Reskrim Polresta Bandar Lampung akan melakukan gelar perkara ulang karena adanya keberatan pelapor belum ada tertera dalam SP2HP A2 telah dilakukan cek tempat kejadian perkara (TKP).
David  Sihombing,  kuasa   hukum   pelapor, Selasa (5/9/2017),  menjelaskan  telah  menemui Kasat Reskrim Polresta Bandar Lampung bersama dengan korban. Dalam pertemuan itu, pelapor menyampaikan keberatan atas terbitnya SP2HP A2 yang mengatakan penyelidikan perkara itu berhenti. Menurut pelapor,  penghentian itu tidak beralasan hukum  karena belum cek TKP.
“Keberatan   korban   (Kartika)   ialah   sudah   ada   pengakuan   terduga   pelaku  yang mengangkut barang korban, namun dinyatakan tidak terbukti pencurian dengan alasan barang dikembalikan,” ujar kuasa hukum korban David, Jumat (8/9/2017).
Kuasa   hukum   korban   menjelaskan  sebelumnya,   pihak   korban   telah   beberapa   kali mempertanyakan kepada penyidik Tohir, apakah  sudah   dilakukan  cek  TKP.  Namun, pihaknya tidak mendapat jawaban yang pasti. “Sangat janggal  perkara curat tidak dilakukan cek TKP, karena   bagaimana polisi mengetahui barang dikembalikan terduga pelaku sementara tidak pernah dicek, dan seharusnya pengecekan TKP bersama dengan korban,” ujarnya.
Kuasa hukum korban menjelaskan penderitaan yang dialami korban sangat berat karena barang-barang berharga seperti ijazah, akta lahir, barang-barang perabot rumah tangga termasuk barang elektronik seperti TV tidak jelas keberadaannya. Namun menjadi sangat janggal jika polisi menyatakan barang dikembalikan sebagai alasan tidak dapat dinaikkan ke tingkat penyidikan.
Menurut David, seharusnya sudah cukup bukti untuk menaikkan perkara itu ke tingkat penyidikan karena terlapor mengakui mengambil barang-barang milik korban. Di satu sisi, ke mana barang itu diantarkan dan  ke mana barang dikembalikan juga masih tanda tanya.
Diberitakan sebelumnya, kasus dugaan pencurian sesuai dengan Laporan Polisi No: TBL/B-I/1560/III/2017/LPG/RESTA BALAM, tertanggal 23 Maret 2017 tersebut telah dilakukan pemeriksaan saksi yang melihat sebelum dan sesudah kejadian itu . Sebelum kejadian rumah serta pagar rumah tertutup rapi dan barang-barang rapi tersusun. Setelah kejadian rupanya pintu pagar dan pintu depan jebol dan sisa barang-barang berserakan. Setelah kejadian, korban menanyakan kepada ketua rukun tetangga (RT) setempat, Edi Susanto, namun saat kejadian ketua RT itu tidak berada di tempat.
Seperti diketahui,  pengangkutan barang-barang  dilakukan sejak sore hingga menjelang subuh pada  saat  korban tidak di rumah.

EDITOR

Isnovan Djamaludin

TAGS


KOMENTAR