PEMILU kondusif, berjalan aman, damai, dan lancar, ekonomi positif menguat. Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) sehari usai pemilu (Kamis 18/4) dibuka langsung menguat 87,3 poin ke level ideal 6.568,84. Juga rupiah terhadap dolar AS di hari yang sama menguat 0,95% kurs tengah BI pada Rp14.016 per dolar AS, dari Rp14.120.

Analis Indo Premier Sekuritas Mino, dikutip Kompas.com (19/4), mengatakan investor asing melakukan pembelian cukup agresif. Hal itu terlihat dari total pembelian yang mencapai sekitar Rp1,42 triliun.



Angka tersebut cukup fantastis. Karena, sepekan menjelang pemilu, asing melakukan aksi jual hingga Rp1,06 triliun. Dibandingkan awal tahun, asing mencetak tren pembelian dengan total sekitar Rp13 triliun.

Aksi beli asing pasca-pemilu ini mendorong indeks dalam negeri menguat. Ini kebalikan dari indeks lain di Asia yang justru tertekan. Indeks Nikkei 225 merosot hingga 0,84%, disusul Hang Seng turun 0,54%, dan SSEC terkoreksi 0,40%.

Menurut Mino, aksi beli asing itu terdorong oleh kesesuaian antara hasil hitung cepat dan survei sebelum pemilu dengan ekspektasi asing. "Asing melihat pemenang hitung cepat yakni pasangan calon Joko Widodo dan Ma'ruf Amin lebih prospektif dalam membawa perekonomian Indonesia ke arah yang lebih baik, terutama dari kebijakan ekonominya," jelas Mino.

Mengacu pada pembelian oleh asing pada Kamis itu, terdapat tiga saham emiten perbankan yakni BMRI mencapai Rp376,5 miliar, disusul BBCA sebesar Rp273,9 miliar, dan BBNI sebesar Rp201,3 miliar.

Masifnya pembelian asing untuk emiten perbankan, menurut Mino, karena unggulnya pasangan calon Joko Widodo dan Ma'ruf Amin, pasar melihat sektor perbankan prospektif.

Sementara itu, menguatnya rupiah selain didorong sentimen dalam negeri pemilu yang kondusif, juga diperkuat sentimen eksternal. Salah satunya, rilis data ekspor Tiongkok pada Maret tumbuh 14,2% (yoy). Naiknya ekspor Tiongkok membuka peluang bagi impor bahan baku dan energi dari Indonesia.

Analis pasar uang Bank Mandiri Reny Eka Putri mengatakan selain kondusifnya pemilu, juga didukung faktor internal neraca perdagangan Maret yang positif, dengan surplus berlanjut sejak Februari, serta inflasi yang terkendali.

Selain itu, rapat dewan gubernur (RDG) BI yang segera berlangsung diprediksi tidak akan mengubah suku bunga acuan karena The Fed masih dovish. "Tidak ada alasan BI menaikkan suku bunga selama The Fed masih main aman," tutur Reny. 

BERITA LAINNYA


EDITOR

Dian Wahyu

TAGS


KOMENTAR