BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) -- Raja Lear akhirnya mati ditangan putri sulungnya sendiri. Keserakahan kekuasaan dan tipu daya kata-kata jadi pemicunya. 
Kisah penghianatan kepada sang raja yang tidak lain adalah sang ayah itu, tersaji di panggung teater tertutup Taman Budaya Lampung, Senin (14/5/2018) malam. Lakon Lear Asia karya Rio Kishida dengan mengacu pada King Lear karya William Shakespeare diramu apik dalam balutan teater tari oleh Ari Pahala Hutabarat, sang sutradara.
Tak kurang dari 300 pasang mata menyaksikan pementasan yang sudah digelar kedua kalinya oleh Unit Kegiatan Mahasiswa Bidang Seni (UKMBS) Universitas Lampung. 
Dalam alur kisah, digambarkan sesorok raja yang amat berkuasa. Dialah raja Lear yang diperankan oleh aktor Komunitas Berkat Yakin, Alexander GB. Raja Lear, memiliki dua orang putri. Sang sulung sosok yang selalu memuji sang ayah sekaligus raja. Sementara si bungsu, seorang pendiam dan tak pernah memberikan pujian pada raja. 
Namun, dibalik indahnya kata-kata sang Sulung, menyimpan ambisi untuk merebut tahta kekuasaan sang raja. Alhasil, berbagai cara dilakukan, termasuk dengan menjilat sang raja dengan kata-kata pujian. Penghianatan melalui kata-kata, hingga pembunuhan sang Ayah dan adik kandungpun dilakukannya.
"Yang berjanji pasti akan lenyap ditelan asap, dan aku menang,  berkat kata-kata," sepenggal kalimat puitis, yang menggema dari atas pentas. 
Sang sutradara Ari Pahala Hutabarat menyebut pemenatsan Lear Asia menjadi tontonan yang sesuai dengan situasi terkini di Lampung. Gelaran pemilihan kepala daerah (Pilkada) yang akan berlangsung menurutnya, sama-sama menjadi momentum yang memanggungkan perebutan kekuasaan. 
Melalui pementasan Lear Asia, menurutnya tergambar bahwa kekuasaan pada akhirnya bisa runtuh, tidak hanya oleh kekuatan di luar diri penguasa. Namun juga bisa luluh lantah karena kekuatan sang penguasa sendiri.
“Raja Lear dihancurkan bukan oleh orang lain, akan tetapi oleh anaknya sendiri yang sifatnya sama dengan dirinya,” ujar Ari, usai pementasan.
Pembina Komunitas Berkat Yakin itu, menambahkan dari pementasan tersebut disisipkan pesan, bahwa sang pemimpin hendaknya tidak rakus akan kekuasaannya dan mudah ditipu oleh pujian kata-kata. 
Sebab, orang yang memuji belum tentu menjadi orang yang paling setia. “Bisa jadi kata-kata adalah tipu muslihat yang akan menghancurkan,” katanya. 

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR