LAMPUNG TENGAH (Lampost.co)---Pemerintah daerah (pemda) terkesan gagap dalam menghadapi bencana yang melanda daerahnya. Terbukti dalam bencana banjir yang terjadi di sejumlah daerah, pemda setempat baru dua sampai lima hari berikutnya beringsut memberi bantuan. Alasannya prosedur mengeluarkan bantuan beras dari gudang Badan Urusan Logistik (Bulog) untuk korban sulit.
Lampung Tengah misalnya, banjir yang terjadi Minggu (25/2/2018) pekan lalu, baru bergerak memberi bantuan pangan Jumat (2/3/2018). Begitu juga di Way Kanan, bantuan datang pada Selasa (27/2/2018). Sementara di Lampung Selatan, hingga Sabtu (28/2/2018), korban belum juga mendapat bantuan meskipun banjir belum juga surut.
Kini dampak banjir akan dirasakan dalam waktu beberapa bulan ke depan. Sebab mata pencarian masyarakat, yakni sawah, ladang, kolam dan lainnya habis dibawa banjir itu. Salah satunya di Kampung Cabang, Kecamatan Bandarsurabaya, Lampung Tengah, semua sumber penghasilan warga ikut hancur terendam.
Ulung (60), warga korban banjir di Kampung Cabang, menjelaskan hampir semua warga Cabang mengandalkan padi di sawah untuk makanan pokoknya. Ulung yakin ratusan hektare sawah milik warga Cabang gagal panen karena terendam banjir beberapa hari. "Semua rusak dan saya yakin gagal panen. Padi yang hampir panen jadi busuk, yang sedang tumbuh mati terendam," kata dia.
Arif Kusairi (33), salah satu warga Kampung Cabang, mengatakan ternak ayam dan ikan adalah salah satu sumber penghasilan warga Kampung Cabang, selain bertani. Banjir sejak sepekan lalu tidak hanya membuat warga harus rela mengungsi ke tenda darurat, tetapi juga menghabiskan ternak ayam dan ikan yang diharapkan bisa memberi tambahan penghasilan.
"Kalau perabotan rumah tangga basah atau sedikit rusak ya memang iya. Tapi yang justru jadi pikiran kami, soal pekerjaan, soal penghasilan, karena semua ternak mati, ikan hilang, kena banjir," ujarnya.
Hal senada terjadi di Lampung Selatan, ratusan hektare tanaman padi terancam puso alias gagal panen akibat banjir. Tanaman yang terendam banjir mayoritas masih berusia 1—30 hari setelah tanam (HST).
Sutio (39), petani Desa Bangunan, Kecamatan Palas, mengatakan tanaman padi seluas setengah hektare rusak. Terpaksa dia menyulam kembali tanaman padi yang telah berusia 25 hari itu. "Saya berharap ada perhatian khusus dari Pemkab Lamsel. Sebab, sejauh ini belum ada bantuan, baik bibit maupun lainnya," katanya.

Banjir Menggala
Sementara dari Tulangbawang, puluhan rumah yang berada di tepi Way Tulangbawang, tepatnya di Kampung Bugis, Kecamatan Menggala, terendam banjir akibat luapan air sungai. Edwin, warga setempat, mengatakan air mulai masuk ke wilayah permukiman sejak dini hari kemarin. "Mulai subuh tadi air sudah mulai masuk ke kampung," kata dia, kemarin.
Sumarni, warga lainnya, mengatakan curah hujan masih tinggi mengguyur wilayah itu. "Kalau hujan deras pasti airnya makin tinggi," katanya.



wahyu@lampungpost.co.id

 

 

EDITOR

Iyar Jarkasih

TAGS


KOMENTAR