BANDAR LAMPUNG (Lampost.co)--Majelis Hakim Pengadilan Negeri, Kelas 1A, Tanjungkarang memvonis terdakwa Marsus Hadinata dengan pidana penjara 15 tahun penjara. Hukuman itu lebih tinggi dari tuntutan jaksa yakni 14 tahun 8 bulan penjara. Majelis sependapat dengan tuntutan jaksa bahwa terdakwa melanggar pasal 338 KUHP tentang Pembunuhan.

Hakim Ketua Iros Beru didampingi Hakim Anggota Hasmy dan Yus Enidar di persidangan Selasa (31/10/2017), menuturkan bahwa berdasarkan fakta persidangan terdakwa terbukti memenuhi unsur dengan sengaja merampas nyawa orang lain. Hal itu berdasarkan fakta persidangan dimana jaksa menghadirkan saksi-saksi serta barang bukti hasil visum et repertum. Dari fakta persidangan, Rismizar tewas tertembak di bagian wajahnya akibat proyektil peluru yang berasal dari senjata api terdakwa.



"Terdakwa secara sah terbukti bersalah dengan sengaja menghilangkan nyawa oranglain, majelis juga sependapat dengan tuntutan jaksa. Menjatuhkan pidana penjara terhadap Maraus Hadinata dengan pidana penjara selama 15 Tahun," ujar Hakim Iros.
Menurut Hakim Ketua, majelis tidak mengindahkan pembelaan yang disampaikan terdakwa pada pekan lalu sebagai pertimbangan, dengan alasan khilaf dari terdakwa ditolak dan dikesampingkan.

Dalam pertimbangan majelis hakim, perbuatan Marsus telah meninggalkan duka mendalam bagi keluarga korban, tak hanya itu Marsus yang berstatus residivis juga membuat hukuman terhadap dirinya menjadi maksimal. Terjadinya pembunuhan itu dipicu permasalahan sepele. "Hal yang meringanka Marsus selama sidang berprilaku sopan," kata Hakim Anggota Hasmy.
Jaksa Penuntut Umum, terdakwa dan penasehat hukum menyatakan terima atas putas tersebut. 
Seusai sidang, Tarmizi selaku Penasehat Hukum mengatakan terdakwa cukup merasa bersalah atas perbuatanya sehingga dia langsung menerima. "Terdakwa juga menyampaikan permohonan maaf sedalam-dalamnya kepada istri dan keluarga korban," kata Tarmizi.

Sementara itu kelurga korban merasa kurang puas terhadap vonis tersebut dan meminta halim menghukum seberat-beratnya kepada terdakwa. Bahkan, istri korban Yulina Hartati, terus menangis selam sidang berlangsing hingga ia keluar ruang persidangan.
 

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR