BANDAR LAMPUNG (Lampost.co)--Prosesi pembasuhan kaki pada perjamuan malam terakhir merupakan simbol agar manusia selalu bersikap rendah hati terhadap sesama. Sikap rendah hati itulah yang seharusnya menjadi pemandu perilaku dalam hidup keseharian.

Hal itu disampaikan Romo Yustinus Eko Yuniarto SCJ saat memimpin Misa Kamis Putih pertama di Gereja Santo Yohanes Rasul, Kedaton, Bandar Lampung, Kamis (18/4/2019). "Kamis Putih yang ditandai pembasuhan kaki adalah bentuk cinta kasih Kristus agar menjadi teladan bagi manusia. Kamis Putih juga bentuk perayaan cinta kasih. Itulah momentum yang selalu dikenang, ketika Kristus sungguh merendahkan diri di hadapan para murid," kata Romo Eko.



Selain simbol rendah hati, Kamis Putih juga menjadi penanda agar manusia saling melayani. Tidak perlu lagi merasa menjadi yang terbesar jika sesama manusia saling melayani. "Malam perjamuan terakhir juga bisa dijadikan sebagai introspeksi diri siapakah Judas Iskariot itu, jangan-jangan diri kita sendiri," ujarnya.

Kamis Putih merupakan rangkaian Tri Hari Suci yang akan dilanjutkan dengan Jumat Agung dan Minggu Paskah. Pada Kamis Putih, umat Kristiani memperingati malam perjamuan terakhir Yesus dan 12 murid-Nya. 

Pada malam perjamuan terakhir itu, Yesus membasuh kaki 12 murid, termasuk Judas Iskariot yang menyerahkan Yesus kepada imam-imam Yahudi. Tradisi pembasuhan kaki tersebut sampai kini terus dilanjutkan. Imam yang memimpin misa membasuh kaki 12 umat dari paroki setempat.

Misa Kamis Putih di Gereja Santo Yohanes Rasul, Kedaton, berlangsung dalam dua shift, pertama pukul 17.00 dan kedua pukul 21.00. 

BERITA LAINNYA


EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR