BANDAR LAMPUNG (Lampost.co)--Suyanto Alias Keling (37), warga dusun Sidorejo, Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan yang ditangkap Subdit II Tindak pidana Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Lampung, pada Sabtu (5/5) lalu di kediamannya karena ujaran kebencian di media sosial, pernah tergabung dalam grup Muslim Cyber Army (MCA).
Kepada awak media, buruh serabutan tersebut mengaku hanya tergabung  dalam grup Facebook MCA, sekitar satu tahun lalu dan aktif membagikan postingan ujaran kebencian (Hate speech) dan hoaks ke media sosial.
Dalam sehari-hari ia menggunakan HP, dan memiliki beberapa akun yang tergabung dalam grup Facebook tersebut. "Ia saya masuk di grup itu (red MCA)," ujarnya kepada Lampost.co, Senin (7/5/2018) di Mapolda Lampung.
Sementara Pejabat Sementara Kasubdit II Tindak Kompol I Ketut Suryana mengatakan, dari hasil sidik sementara ia hanya merupakan anggota grup Facebook MCA, bukan jaringan utama dari kelompok penyebar hate speech tersebut.Motif tersangka, karena ada rasa tidak suka pada satu partai tertentu, dan juga kepemimpinan pemerintahan yang diusung partai tertentu.
"Jadi karena enggak suka dengan partai tertentu, dia tidak tergabung dalam struktur inti, tapi aktif di grup FB MCA," katanya.
Modus yang digunakan pelaku yakni, dengan cara menggunakan akun temannya yakni Asni As yang kemudian, ia ganti namanya menjadi Fitrah Wong, kemudian menyebarkan konten ujaran kebencian di grup Facebook memilih Gubernur Lampung, pada 21 April lalu.
"Sementara dia ditangkap karena adanya penghinaan pada suku tertentu di postinan grup Facebook.
Disinggung soal penangkapan Agus Nesta Wibowo warga Terbanggi Besar, Lampung Tengah yang mempostin foto di Instagram wajah Kapolri  "jenderal otak Hansip", ia mengatakan tidak ada keterkaitan antara keduanya, mereka murni melakukan ujaran kebencian karena ketidaksukaan pada pihak tertentu.
Tersangka dikenakan Pasal 45A ayat (2) UU RI 19/ 2016 tentang perubahan atas UU RI 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) yang berbunyi: Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditugjukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu millar rupiah).

PENULIS

Asrul Septian Malik

TAGS


KOMENTAR