BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) -- Aribun Sayunis bukanlah orang baru di dunia akuakultur Provinsi Lampung, Sumatera Selatan, Jambi, dan Sumatera Barat, khususnya air tawar. Pasalnya, pembudidaya sekaligus pengusaha ikan tersebut sudah berkecimpung di sektor ikan air tawar sejak 1990. Saat itu usianya baru menginjak 21 tahun.

Kini kerja keras dan kerja cerdasnya membuahkan hasil. Ia membudidayakan ikan patin dan nila di lebih dari 400 kolam yang tersebar di empat lokasi yakni Lampung Selatan dan Lampung Timur. Ukiran kolamnya pun bervariasi, mulai dari 800 m2 hingga 3.000 m2. Dari kolam sebanyak itu ia panen ikam patin 10 ton per hari, yang dipasok untuk pasar lokal maupun cold storage dengan mempekerjakan hampir 100 karyawan. Sebagian besar bekerja di bagian panen dan transportasi/penjualan.



Kiprah Aribun di dunia akuakultur dimulai pada 1990. Ia benar-benar merangkak dari nol, dengan modal awal Rp25 ribu. Pada awalnya ia memasok bibit lele dumbo ke pembudidaya ikan di Pringsewu dan Tanggamus. Kemudian berkembang ke wilayah Lampung Tengah, Lampung Timur, dan Sumatera Selatan. Bahkan ia sampai berjualan bibit ikan ke Jambi dan Sumatera Barat.

Berbeda dengan pemasok bibit lainnya yang sekadar menjual bibit. Aribun selain memasok bibit juga memberikan pembinaan bagaimana teknik budidayanya agar berhasil. Lalu ia juga mencarikan pasarnya dan menampung panen dari pembudidayanya. Dengan pola demikian, ia banyak disenangi pembudidaya.

 

Beralih ke Patin

Kenapa beralih ke patin? Pada awalnya ia tidak begitu tertarik untuk beralih ke ikan patin. Namun ketika semakin gencar pemberitaan bahwa terbuka pelung ekspor ikan patin, akhirnya pada 2006 ia mulai mengembangkannya. Apalagi sebelumnya ekspor udang sudah memberikan keuntungan luar biasa bagi pembudidaya udang di Lampung. Lalu alasan lain, 'pemain' di lele juga sudah cukup banyak dan produksi lele dari Lampung sudah over dan dikirim ke Sumsel setiap hari.

Maka mulailah Aribun membudidayakan patin. Ia menebar bibit patin berukuran 2 inci yang di datangkan dari Balai Penelitian dan Pengembangan Ikan Sukamandi, Subang, Jawa Barat dan bekerja sama dengan pembibitan anggota Asosiasi Pengusaha Catfish Indonesia (APCI). Ia sendiri sekarang menjabat sebagai Ketua APCI wilayah Lampung dan juga Ketua Bidang Pengembangan Usaha APCI Nasional.

Dalam pembesaran ikan patin, Aribun terlebih dahulu melakukan pendederan di kolamnya yang berlokasi di Desa Bandarnegeri, Kecamatan Sragi, Lampung Selatan selama 3 bulan. Selanjutnya baru disebar ke tiga lokasi lainnya. Pilihannya untuk masa pendederan di Sragi, karena kualitas air sangat baik dan juga lebih dekat dengan akses Jalan Lintas Pantai Timur Sumatera.

Pertimbangan dalam memilih lokasi budidaya, lebih diutamakan soal ketersediaan sumber air, mengingat iklim di Lampung yang posisinya sebelah selatan garis khatulistiwa yang mengalami musim kemarau ekstrem selama 4 bulan. Lalu, akses jalan untuk mempermudah bibit, pakan, dan hasil panen. Terakhir adalah keamanan, mengingat kolam tidak di pagar dan ikan mudah di pancing orang. Karena itu untuk pengamanan, ia membangun rumah tinggal untuk karyawan dan keluarganya di setiap lokasi kolam.

Untuk pakan, Aribun menggunakan pakan pabrikan dan pakan mandiri. Ia mengakui, agar pertumbuhan ikan lebih cepat dan dagingnya lebih putih digunakan pakan pabrikan dengan kadar protein sekitar 20% yang di pasok mitranya PT CP Prima. Namun, ia menyelinginya dengan pakan mandiri meski kadar protein lebih rendah dari 20% untuk bekatul, ikan rucah, bungkil kedelai dan bungkil kelapa yang dihasilkan petani nelayan.

"Jika ikan diberi pakan mandiri pertumbuhannya lebih lambat sehingga budidaya lebih lama hingga 2 bulan dan FCR mencapai 2,1. Namun, cost-nya lebih rendah, hanya sekitar Rp4 ribu per kilo. Lalu kita juga memberi manfaat kepada nelayan dan petani. Bahkan bekatul yang awalnya murah, jadi ada harganya," kata dia.

Saat ini biaya operasional pokok (BOP) budodaya ikan patin di Lampung Rp12 ribu oer kilo. Jika dengan pakan pabrik masih untung, ia biasanya lebih banyak menggunakan pakan pabrik. Jika keuntungan menipis dikombinasikan deng dengan pakan mandiri. Untuk pasar lokal, ikan dipanen berukuran di bawah 8 ons dan untuk cold storage berukuran 0,8 ons ke atas. Rata-rata ia menghasilkan 2 ton patin dari kolam ukuran 800 m2. Adanya penampungan patin oleh cold storage cukup membantu pada saat panen patin melimpah, sehingga harga stabil.

 

Pengembangan Patin

Aribun menilai, patin berpotensi besar dikembangkan di Kabupaten Lampung Selatan, Lampung Timur, Lampung Tengah, dan Tulangbawang yang memiliki banyak air. Sementara di Tanggamus, Lampung Barat, Way Kanan, Lampung Utara lebih cocok ikan mas, gurame, dan nila karena banyak memiliki air mengalir.

Khususnya di Kecamatan Pasir Sakti, Lampung Timur terdapat 2 ribuan hektare lahan bekas galian pasir yang terlantar hampir 20 tahun. Jika pemerintah mendukung, APCI siap menyulap lahan ini menjadi areal minapolitan budidaya ikan patin untuk ekspor.

"Tinggal dukungan dan kemauan dari pemerintah, agar memberi kesempatan kepada APCI untuk membuktikan bahwa areal tersebut bisa dijadikan lokasi budidaya ikan. Apalagi jika sarana dan prasarana pendukung lainnya juga sudah tersedia," ujarnya.

Lokasinya di sisi Jalan Lintas Pantai Timur (Jalinpatim) Sumatera sehingga akses transportasi bibit, pakan dan hasil panen ke Jakarta lebih dekat dan mudah. Lalu masyarakat yang akan membudidayakan ikan juga tersedia dan umumnya berasal dari pulau Jawa yang di kenal tekun dan ulet dalam berusaha. Bahkan sumber air dan jaringan irigasi juga sedang dibangun.

"Memang jaringan irigasi yang dibangun untuk pengairan sawah. Tapi kan bisa airnya dimanfaatkan dulu untuk perikanan. Kemudian air buangan dari kolam dikembalikan lagi ke saluran irigasi. Bahkan berdasarkan pengalaman di Palas dan Sragi, petani lebih senang air yang masuk ke sawah mereka merupakan air buangan kolam yang sarat zat-zat organik. Pemakaian pupuk untuk padi lebih sedikit namun padinya lebih subur," ujarnya.

Jika lokasi ini menghasilkan patin, maka cita-cita Aribun bahwa patin Lampung bakal "go internasional" bisa terwujud. Ia mengimpikan pada suatu saat patin Lampung seperti nanas, kopi, dan lada yang menguasai pasar Uni Eropa dan Amerika Serikat. "Jika hal itu sudah terwujud, baru misi dan visi APCI tercapai," ungkap Aribun.

Bahkan di Pasir Sakti juga terdapat beberapa danau dengan luas di atas 2 - 5 hektare dengan kedalaman 5 - 10 m. Kita akan buat keramba jaring apung (KJA) agar bisa memelihara patin disana. "Kini banyak jaring KJA terlantar bekas ikan kerapu yang bisa kita alihfungsikan untuk dijadikan KJA patin di Pasir Sakti, sehingga biaya dalam pembiayan KJA bisa lebih murah," kata dia.

Aribun sudah membuktikan sendiri bahwa danau bekas galian pasir tersebut bisa disulap menjadi kolam patin. Danau-danau yang awalnya berkedalaman 3 - 6 m yang sudah terlantar hampir 20 tahun ia sulap menjadi kolam-kolam budidaya berkedalaman 2 m yang memberikan hasil ekonomi.

Namun Pak Haji, begitu akrabnya warga memanggilnya, memikirkan bagaimana caranya agar lahan yang luaanya mencapai 2 ribuan hektare tersebut bisa memberikan hasil bagi masyarakat setempat. Dengan perlakuan sama di lokasi kolamnya yang lain, justru pertumbuhan patin di kolam bekas galian pasir ini lebih cepat dan tingkat kematiannnya pun lebih rendah. Bahkan kini sudah memasuki siklus keempat dan pertumbuhan ikan tetap baik.

Melihat keberhasilan-keberhasilan di kolam bekas galian ini, Aribun mengundang gubernur Lampung kala itu M Ridho Ficardo untuk melakukan panen perdana sekaligus pencanangan lokasi tersebut untuk kawasan minapolitan. Hal itu disambut disambut antusias oleh masyarakat setempat yang selama ini merasa terganggu dengan danau-danau yang tidak memberikan manfaat tersebut. Dari pengalamannya sudah empat siklus Aribun yakin dari lahan seluas 1 ha rata-rata bisa dipanen 10 ton per siklus. Makanya dari areal 10 ribuan hektare di Pasir Sakti saja akan menghasilkan 100 ribu ton ikan patin per tahun. Itu artinya sudah mampu memenuhi pasar Amerika Serikat dan Uni Eropa dari satu areal saja. Belum lagi ribuan hektare lahan terlantar di Sumatera Selatan, Jambi, dan daerah lainnya.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR