PENDUDUK Desa Paminggir di Talangpadang—Kotaagung masih mengetahui dan menceritakan mengenai jumlah keseluruhan batu-batu megalit yang dibawa ke dalam hutan oleh setan atau mungkin itu batu-batu keramat. Bagaimanapun juga, mengenai batu-batu megalit lainnya yang dulu dibangun orang Abung masih hidup di sana.

Pengamatan hingga saat ini menyimpulkan sangat tidak mungkin menguraikan secara detail mengenai penyebaran orang Abung lama. Cerita orang Abung sekarang di dataran timur tidak memberikan kesimpulan pasti. Bagaimanapun juga, telah dibuktikan bahwa informasi dari penyimbang, wilayah Sekala Bkhak membentang dari Tanggamus bagian selatan hingga Danau Ranau bagian utara, berdasarkan realitas.



Informasi yang diperoleh di Sewu-Mego-Abung juga tidak mengetahui apapun mengenai suku-suku di wilayah utara yang wilayah asalnya kala itu melampaui bagian utara Danau Ranau mencapai daerah Sungai Way Nasal dan Way Luas. Wilayah MegoPak-Abung bagian timur laut kemudian memberikan informasi serupa mengenai Sekala Bkhak. Namun, wilayah tersebut tidak berbatasan hingga ke utara. Sayangnya, sulit mengumpulkan informasi pada penelitian Friedrich W Funke selanjutnya di Buwei Lima-Abung.

Cerita dari lawan suku Abung yang dulunya mendesak dari wilayah lama, merupakan bantuan yang sangat berarti mengenai batas wilayah Abung. Penemuan megalit di tempat-tempat berbeda di pegunungan tersebut akhir memberikan dasar kuat mengenai pembangunan pusat permukiman.

Penelitian menyeluruh terhadap daerah pegunungan ini kemungkinan akan memelihara keutuhan warisan megalit lainnya yang dapat memperluas pengetahuan kita mengenai penyebaran orang Abung di seluruh wilayah. Tapi, penelitian itu tidak dapat dilakukan melihat kondisi saat ini.

Mungkin saja, tingkat pengetahuan kita mengenai penyebaran masyarakat Abung dulu akan berubah akibat ilmu-ilmu pengetahuan baru. Meskipun demikian, tidak akan berubah bahwa pusat utama permukiman adalah di dataran tinggi Negarabatin-Kenali, lembah besar Way Pitai-Besai dan dataran rendah utara Talangpadang, juga wilayah tepi pegunungannya.

Oleh karena itu, tidak hanya dibahas cerita-cerita yang dihubungkan secara detail, tetapi juga peninggalan megalit di tempat ini dan kondisi alam wilayahnya.

Dapat disimpulkan, kita harus menghargai seluruh wilayah pegunungan di Sumatera Selatan ini yang merupakan tempat tinggal suku Abung zaman dahulu. Barisan pegunungan yang luas dan menjulang hingga 2.000 meter hanya dapat ditinggali hingga pada ketinggian tertentu karena iklim di tempat yang terlalu tinggi tidak baik untuk anak-anak dari daerah beriklim tropis.

Di sisi lain, daerah lembah sungai tidak dapat ditumbuhi rumpun bambu dan tanaman tropis lainnya. Sebab itu, orang Abung menempati daerah dengan ketinggian menengah yang memiliki dataran lembah yang luas dan tepi sungai-sungai besar untuk lokasi pembukaan lahan dan perkampungan. Tidak terdapat tanda-tanda masyarakat Abung hidup di dataran rendah pada zaman batu besar-di wilayah pesisir barat atau di dataran rendah bagian timur.

Baru saat masuknya Paminggir lama dari wilayah mereka di Kroe menuju pusat wilayah Abung dulu, sebelah tenggara Danau Ranau akhirnya menggerakkan orang-orang Abung. Dari abad ke-13, suku Paminggir yang terus bergerak maju akhirnya mendesak orang Abung hingga ke timur dan mengusir mereka dari pegunungan ke dataran rendah wilayah timur.

Pada waktu bersamaan, di wilayah utara masuklah orang Semendo atau Rebang-Melayu dari timur melewati pegunungan Bukit Barisan dan pendatang dari Sumatera Barat mendesar dari selatan, pesisir Kroe ke wilayah utara masyarakat Abung, mereka mendesak keluar melewati Danau Ranau hingga ke wilayah dataran rendah Way Umpu.

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR