BANDAR LAMPUNG (Lampost.co)--Pemuda (Naposo) Silahisabungan se-Bandar Lampung dan sekitarnya menggalang dana bagi korban penggusuran Pasar Griya, Kecamatan Sukarame, Bandar Lampung. Penggalangan tersebut sebagai bentuk empati terhadap para korban."Ini bentuk empati kami. Terlepas para korban salah atau tidak, mereka tetap saudara kita dalam kemanusiaan," kata Rico Fritz Sinurat, Koordinator Penggalangan Dana Naposo Silahisabungan, melalui keterangan tertulisnya, Sabtu (21/7/2018).
Alumnus FISIP Universitas Lampung (Unila) itu mengatakan, pihaknya akan mengumpulkan uang dan pakaian bekas laik pakai. Nantinya, dana yang terkumpul akan dibelikan bahan pokok. Kebutuhan yang mendesak adalah makanan dan air minum.
Dia melanjutkan, pihaknya telah mendatangi lokasi penggusuran. Hasilnya, sebanyak 40 kepala keluarga (KK) masih bertahan di sana. Mereka hidup seadanya pascapenggusuran. "Ada warga tak punya pakaian, cuma yang melekat di badan. Kebanyakan korban penggusuran bekerja sebagai pemulung," ujar dia.
Tidak hanya menggalang dana, Naposo Silahisabungan juga menerima bantuan dari masyarakat. Nantinya, bantuan tersebut diberikan kepada korban penggusuran Pasar Griya. Kami menerima bantuan berupa uang maupun bahan pokok. Bagi yang ingin mengulurkan tangan dapat menghubungi kami, kata Rico.
Sebelumnya, Pemerintah Kota (Pemkot) Bandar Lampung menggusur Pasar Griya, Jumat (20/7). Penggusuran berakhir ricuh karena warga yang didampingi sejumlah aktivis mahasiswa bentrok dengan aparat. Dalam bentrokan tersebut, sebanyak 11 orang dibawa ke puskesmas dan rumah sakit terdekat. Salah satu di antara korban didiagnosis patah kaki.

 

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR