KALIANDA (Lampost.co) -- Faktor cuaca yang melanda perairan selat sunda sejak pertengahan Juli 2019, membuat sejumlah pelaku usaha pembuatan teri rebus mandek lantaran minimnya bahan baku. "Sejak bulan purnama pada pertengahan Juli lalu, kami kesulitan mendapatkan bahan baku. Sehingga usaha kami berhenti untuk sementara waktu sembari menunggu nelayan kembali melaut, " kata Saniman (45) pelaku budidaya pembuatan teri rebus di pantai timur, Desa Ketapang, Lampung Selatan, Selasa (25/6/2019).

Selama menganggur, ia bersama keluarga memperbaiki tempat penjemuran teri yang rusak."Sambil menunggu cuaca membaik, kami sehari hari melakukan perbaikan alat alat untuk teri rebus yang memgalami kerusakan, " ucapnya.



Hal senada diakui Pendi (43), pembuat teri rebus di TPI Muara Piluk, kecamatan Bakauheni. Menurut dia, sebagian besar nelayan bagan memilih istirahat daripada melaut dengan kondisi alam yang tak bersahabat. "Akibat nelayan bagan belum turun melaut, produksi kami hentikan karena tidak ada bahan baku, " jelasnya.

Ia mengaku sudah sekitar dua pekan tidak memproduksi teri rebus lantaran tidak ada pasokan bahan baku dati nelayan bagan. "Sejak bulan purnama dua pekan lalu sampai saat ini kami sudah libur memproduksi teri rebus. Mudah-mudahan awal bulan juli, nelayan bagan sudah turun melaut, dan kami kembali bekerja," harap Pendi.

loading...

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR