KALIANDA (Lampost.co) -- Petani di Kecamatan Sragi, Lampung Selatan, mengeluhkan adanya pasang surut air laut yang masuk ke beberapa saluran irigasi diwilayah tersebut. Pasang surut air laut itu menyebabkan petani setempat kesulitan dapat pasokan air untuk mengairi lahan sawah.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Lampost.co, pasang surut air laut yang ada di beberapa saluran irigasi itu tidak bisa dimanfaatkan untuk mengairi tanaman padi. Hal itu dikarenakan bisa merusak hingga kematian pada tanaman padi.



Tomo (49) salah satu petani asal Desa Kualasekampung mengatakan beberapa hari terakhir sebagian besar petani sudah menghentikan aktivitas penyiraman tanaman padi. Selain disaluran irigasi, pasang air laut ini juga menyebabkan air di Sungai Way Sekampung juga telah berubah asin.

"Sebagian petani sudah enggak bisa menyedot air dari saluran irigasi lagi, Mas. Sebab,  airnya sudah tidak bisa dipakai lagi karena sudah asin. Kalau dipaksakan tanaman bisa mati," kata dia.

Dia mengaku hanya sebagian kecil petani bisa mempertahankan tanaman padi pada musim kemarau saat ini. Sebab, mereka memanfaatkan pompanisasi dari sumur bor.

"Paling ada sebagian kecil yang memiliki sumur bor. Mereka masih bisa bertahan dengan menyedot air di sumur bor. Kalau pasang surut air laut ini, kami hanya bisa diam dan menunggu turun hujan," kata dia.

Kepala UPTD Pelaksanaan Penyuluhan Pertanian Kecamatan Sragi, Eka Saputra mengaku pasang air laut itu telah memasuki saluran irigasi di tiga desa yaitu, Desa Bandaragung, Kuala Sekampung dan Sukapura. Hal itu menyebabkan tanaman padi sekitar 600 hektare terhenti aktivitas penyiraman lahan.

 "Pasang surut air laut ini terjadi sejak satu pekan terakhir.  Tentu berdampak pada aktivitas penyiraman tanaman padi yang dilakukan selama musim kemarau.

Dia mengaku jika pasang surut air laut terjadi 10 hari kedepan dan tidak turun hujan, maka diprediksi tanaman ratusan hektare itu akan terancam kekeringan.

"Kalau kondisinya seperti ini terus bisa saja kekeringan dan berdampak kerusakan," kata dia.

EDITOR

Setiaji Bintang Pamungkas

TAGS


KOMENTAR