PAPADON kini merupakan bangku yang dibuat seperti singgasana dari kayu besar yang dihias dan boleh dibawa oleh pemiliknya pada perayaan terbuka. Perayaan yang berlangsung lama berhubungan dengan pengujian operasional suatu papadon yang prosesnya diatur hingga detail terkecil.

Pada kenaikan papadon diperlukan penyembelihan kerbau dan biasanya makanan pesta yang mewah. Pada zaman modern juga melakukan pembagian uang untuk semua masyarakat suku. Pemilik papadon melepaskan nama sebelumnya pada kenaikan pertama. Kemudian, dia menerima nama baru dengan tambahan gelar sutan.



Pada masa awal Bantam, di abad ke-16 pertengahan, kursi kehormatan dari pimpinan suku itu terbuat dari batu. Pada 27 Juli 1953, di Menggala, para penyimbang dari suku-suku di daerah timur laut Megow Pak menjelaskan bahwa papadon batu kembali ke zaman jauh sebelum Minak Paduka Bedeguh, sebelum titik balik 1430. Di masa itu, suku Abung seluruhnya masih menghuni wilayah pegunungan. Di permukinan di dataran rendah, hanya boleh membawa kepingan kecil.

Papadon yang terbuat dari kayu muncul pada zaman Bantam sesaat setelahnya. Pengetahuan itu merupakan tradisi di suku pada zaman Minak Paguka Bedeguh. Begitu pula nama papadon muncul sesaat kemudian pada zaman hubungan dengan kesultanan Bantam. Pada zaman dahulu, singgasana ini tidak disebut papadon.

Para penyimbang daerah timur laut menceritakan mengenai papadon batu yang masih digunakan. Objek itu berada di kampung Menggala. Marga dari Penyimbang Warganegara dari suku Buwei Bulan mengajukan hak kekayaan meski marga ini menduduki papadon kayu yang batu. Satu dari marga lain yang membuktikan hak mereka melalui silsilah papadon, memperselisihkan hak ini.

Papadon batu ini berlokasi di sebuah tempat di Menggala yang bernama Kibang Tengah. Di sana, papadon tersebut diletakkan di depan rumah Minak Rijow Menawang Burhanuddin di tempat terbuka.

Kursi tersebut terdiri atas sebuah penyokong dari batu yang lebih kecil berukuran 80 x 80 cm. Di atasnya, di bagian tengah terdapat dua balok batu besar berukuran bundar berukuran diameter 50 cm dan tinggi 50 cm. Di sekeliling batu-batu berukuran lebih besar ini terdapat satu lusin batu kecil. Kedua batu utama dikerjakan dengan tangan manusia, pada batu luar yang lebih kecil ditemukan jejak pengerjaan pada permukaan yang halus. Materialnya adalah batu pasir yang keras dan kasar. Permukaan batu-batu tersebut seluruhnya rusak karena pengaruh cuaca.

Sasako juga termasuk pada papadon batu, salah satu dari penopang belakang itu baru ada pada masa Bantam. Sasako ini terdiri atas tiga papan kayu dengan panjang 1,70—2,30 meter. Lebar pada semuanya tidak lebih dari 60 cm. Papan kayu yang berat ini dipotong pada sisi depannya. Kayu ini memiliki relief berpola sulur.

Pajum putih juga merupakan bagian dari papadon batu, sebuah layar yang menampilkan tingkatan papadon marga tertinggi melalui warna. Gambar nomor 41 menunjukkan pemilik papadon saat ini dan saudara laki-lakinya.

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR