DALAM cerita mengenai kelompok Abung Selatan dari Gunung Tanggamus, para pemuda yang sudah siap menikah mula-mula meninggalkan desanya di pegunungan. Mereka bergabung dengan kelompok kecil bersenjata dan menuju dataran Semaka. Kemudiaan menyembelih dan membawa kepala mereka dan kembali dengan piala kepala tersebut ke desanya, Abung.

Di desanya, mereka disambut dengan sukacita, terutama oleh para gadis yang telah siap menikah. Kemudian dilangsungkan upacara pernikahan. Persyaratan untuk itu adalah kepala hasil perburuan.



Pada penjelasan mengenai pesta papadon, akan diketahui tentang tarian perang yang masih ada hingga kini bahwa tari tigel menyajikan tahap perburuan kepala yang dilakukan orang Abung.

Juga sangat jelas hingga kini hanya pemimpin keluarga yang memiliki kedudukan dalam proatin, dewan desa, pemilik hak papadon, yaitu yang memiliki hak menaiki papadon atau menyelenggarakan pesta rakyat dan kemudian mendapat gelar sutan dengan nama barunya. Nama proatin diperoleh dari orang Abung sendiri dari para batin, perkumpulan pemimpin keluarga.

Hubungan utama antara keberadaan papadon dan perburuan kepala dalam catatan Cornets de Groot pada abad ke-19 mengenai tradisi orang Abung menjadi jelas. Artinya, dahulu yang boleh menaiki papadon adalah yang memperoleh kepala dalam perburuan, kini dapat dilengkapi hanya mereka yang berstatus pemimpin keluarga dan dewan asosiasi desa.

Perspektif lain yang dapat dipandang adalah bahwa pada zaman modern, artinya papadon terbuat dari kayu, papadon disimpan di sesat, rumah perkumpulan desa atau suku. Hal itu wajar hingga pada abad terakhir.

Upacara kenaikan sendiri diadakan di rumah sesat, rumah perkumpulan. Di sana, papadon diletakkan di tengah-tengah dan calonnya diresmikan. Dengan merendah di tempat duduk tersebut, nama sebelumnya terhapus dan ia menjadi sutan. Hal itu disaksikan oleh semua pemimpin marga di desa dan desa tetangga yang diundang. Hanya forum perkumpulan yang membuat penetapan ini sah.

Penemuan megalitik yang tersebar di seluruh pegunungan memberikan penjelasan semua cerita mengenai perburuan kepala, kurban darah, dan adat-adat serupa dalam berbagai variasi. Dasar untuk seluruh budaya orang Abung lama ini adalah ladang yang dibuka dengan dibakar. Orang Abung yang hidup bersama dalam kelompok kecil, yaitu berdasarkan keturunan marga terkait adalah masyarakat petani (dengan cangkul), seperti yang masih ada hingga sekarang.

Masyarakat desa hanya terdiri atas sejumlah marga yang keluarganya membuka ladang-ladang dengan membakar hutan yang ditanami secara terpisah, tetapi menjadi kesatuan dalam ritual upacara. Pembuatan megalit yang besar memerlukan keberadaan jumlah masyarakat yang lebih besar.

Pesta rakyat yang masih ada hingga kini sangat berkaitan dengan ritual megalit awal. Peletakan menhir dan kurban darah yang berkaitan dengan pesta-pesta tersebut merupakan urusan masyarakat desa yang mencoba meningkatkan kesuburan tanah.

 

BERITA LAINNYA


EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR