NALAR publik di Republik ini belumlah pupus dari drama penyanderaan oleh para narapidana terorisme di Rumah Tahanan (Rutan) Markas Komando (Mako) Brigade Mobil Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, Selasa (8/5) dini hari.

Belum tuntas kita menghela napas atas aksi terorisme di Mako Brimob, tiba-tiba aksi terorisme kembali terjadi. Tiga gereja di Surabaya diguncang bom bunuh diri dalam tempo hampir bersamaan. Sebanyak 13 warga tewas, 43 lainnya luka-luka.



Atas aksi tanpa nurani itu, semua pihak melancarkan kecaman. Semua tokoh lintas agama mengutuk laku teror di Surabaya. Presiden Joko Widodo menyatakan tragedi di Kota Pahlawan sebagai perbuatan biadab di luar batas kemanusiaan.

Kita semua tentu sepakat dengan pernyataan tokoh bangsa ini. Tidak ada satu pun alasan dapat menjadi pembenaran dari perilaku barbar dari mereka yang mengumbar kekerasan, apalagi merenggut nyawa orang-orang tidak bersalah.

Dua aksi terorisme berlangsung dalam sepekan terakhir membenarkan peringatan berbagai pengamat bahwa terorisme di Republik ini belum habis. Sel-sel terorisme nyatanya dapat beranak pinak di tengah masyarakat tanpa terdeteksi.

Namun, mengutuk aksi terorisme tidak hanya cukup. Perlu upaya lebih melawan terorisme. Ini adalah perkara penting. Sebab, kedaulatan dan harga diri bangsa untuk melindungi ratusan juta nyawa rakyatnya menjadi taruhannya.

Kita mengapresiasi langkah aparat menangani terorisme dan radikalisme yang terus merongrong kedaulatan negara ini. Namun, jujur kita katakan, upaya itu belumlah paripurna. Dua kejadian terakhir adalah pelajaran telak untuk semua pihak.

Tragedi di Mako Brimob dan tiga gereja di Surabaya patut menyentak kembali kesadaran kita bahwa perang melawan terorisme tidak boleh surut, apalagi lengah. Buah dari dua hal ini adalah lahirnya berbagai aksi teror.

Terlebih, para teroris kian pandai berkamuflase, berbaur di tengah masyarakat seperti halnya masyarakat kebanyakan. Bak bunglon, mereka mampu menyesuaikan diri di mana pun dan kapan pun tanpa mudah terendus dan siap melancarkan aksinya.

Kita telah sepakat terorisme adalah satu dari kejahatan luar biasa seperti halnya narkoba dan korupsi. Semuanya merupakan kanker ganas yang terus meranggas NKRI jika dibiarkan tanpa upaya tegas pemerintah menumpas hingga ke akar akarnya.

Terorisme harus dilawan dengan kewaspadaan tanpa batas serta ketegasan tanpa tawar-menawar. Namun, lebih penting lagi adalah upaya deradikalisasi melalui ranah pendidikan. Sebab, muasal dari semua ini adalah sesat nalar para pelaku teror.

EDITOR

Abdul Gofur

TAGS


KOMENTAR