NARKOBA adalah petaka masa depan bangsa. Maka, pemberantasan dan penanganannya mesti menyeluruh. Beragam upaya dilakukan pihak-pihak terkait. Namun, barang haram ini dari hari ke hari justru kian diminati, bahkan telah merambah ke anak-anak. 

Alih-alih memberantas, mencegah, dan berbagai antisipasi lainnya untuk masyarakat, peredaran narkoba bukannya mati malah menjadi-jadi. Indonesia yang menyatakan darurat narkotika sejak 2015, justru setahun terakhir mencatat 4—5 juta jiwa teridentifikasi sebagai pecandu barang haram itu.



Data BNNP Lampung, pada 2014 jumlah pengguna narkoba di Bumi Ruwa Jurai mencapai 74.224 orang, meningkat menjadi 128.529 orang pada 2017. Akibatnya, peringkat jumlah pengguna narkoba Provinsi Lampung naik dari urutan ke-10 pada 2014, menjadi urutan kedelapan pada 2018 dari 34 provinsi. Di Sumatera, Lampung berada pada urutan ketiga penyalahgunaan narkoba.

Para bandar narkotika pun kini mulai menyasar para pemula sebagai target penjualan. Tentu saja hal ini menjadi dasar agar mata rantai ketergantungan narkotika tidak terputus. Hingga Maret 2017, sebanyak 71 new psychoactive substances (NPS) teridentifikasi masuk ke Indonesia. Sebanyak 65 di antaranya sudah masuk Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 58 Tahun 2017 tentang Perubahan Penggolongan Narkotika.

Sebelumnya, Kemenkes menyiarkan bertambahnya 27 zat baru narkotika. Menurut BNN, 44 jenis narkoba beredar di Indonesia. Bukan hanya bahan-bahannya yang berkembang, melainkan juga penyajian, bentuknya, mulai cairan sampai bentuk bahan isap. Kejahatan juga menggunakan iptek yang sesungguhnya netral.

Merajalelanya peredaran dan penggunaan narkoba harus segera dihentikan. Seperti halnya hukum ekonomi, penjualan barang terlarang itu tentu akan menurun jika tidak ada permintaan. Sebab itu, dibutuhkan kepedulian terutama lingkungan keluarga untuk menekan penggunaan narkoba. Juga di sekolah-sekolah perlu ditanamkan pengetahuan pada anak untuk menjauhi narkoba.

Selain itu, sanksi tegas dan aksi cepat sangat dibutuhkan dalam menindak para pengedar dan bandar barang haram yang merugikan kesehatan manusia tersebut. Jangan malah berleha-leha seperti pada beberapa kasus yang sedang berjalan. Aparat penegak hukum harus membongkar sindikat peredaran narkoba.

Langkah BNNP Lampung menembak mati bandar narkoba perlu diapresiasi. Namun, prinsip utama pemberantasan penyalahgunaan narkoba ialah pencegahan. Jika tidak ada yang menyalahgunakan narkoba, langkah menindak dan rehabilitasi tidak diperlukan. Faktanya, sekarang ini, segalanya telah bercampur baur.

Karena itu, langkah pemberantasan narkoba perlu dilakukan dengan pendekatan berbagai aspek serta melalui langkah bersama. Semua pihak, pemerintah, aparat, dan masyarakat harus intens terlibat dalam pencegahan dan pemberantasan narkoba yang makin meresahkan dan memprihatinkan.

Pemerintah pun harus mendukung pemberantasan narkoba antara lain dengan menyediakan sarana prasarana penunjang. Misal alat x-ray di pelabuhan, jangan sekadar mengandalkan penciuman anjing pelacak. Kita tidak boleh surut melawan narkoba. Bersikap lengah apa lagi lembek dalam perkara mahapenting ini sama saja menggadaikan masa depan bangsa kepada para bandar narkoba.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR