USAI penghitungan surat suara anggota DPRD provinsi, Pak Sarman mendekat ke telinga saya, membisikkan sesuatu. Ketua KPPS itu memberi mandat kepada saya selaku anggotanya untuk mengambil alih sementara proses perhitungan suara untuk DPR RI. Sementara dirinya memilih menuju rumah warga di samping TPS untuk merebahkan diri. 

Bagi pria paruh baya sepertinya, bekerja tanpa henti di TPS dari pagi buta tidak semudah menunggu pelanggan sambil membuat duplikat kunci yang saban hari dia lakoni di Pasar Kangkung, Bandar Lampung. Maka, tak heran ketika menjelang pukul sembilan malam, dia rehat sejenak untuk memulihkan energinya.



Raut wajah lima petugas KPPS yang lain juga tak kalah layu, menyiratkan rasa lelah yang tak tertahan. Padahal, gelas-gelas yang menyisakan dedak kopi sudah berserakan di bawah meja.

Amanah besar, yang sudah tersemat bersama sumpah untuk menyelenggarakan pesta itu dengan bersih, membuat kami harus tetap melanjutkan porses penghitungan. Untuk itu, kami menerapkan sistem aplus bagi petugas lain yang tubuhnya mulai sempoyongan meminta istirahat.

Bukan hanya menuntut mata untuk tetap melek, daya konsentrasi juga mesti selalu terjaga demi keakuratan perhitungan. Satu suara saja terlewat, hitung ulang mesti digelar kembali. Malam itu terasa begitu panjang. Sepenggal cerita lima tahun lalu itu masih terekam lekat di kepala saya. Menjelang subuh, akhirnya perhitungan yang melelahkan itu rampung tanpa kendala.

Pada Pemilu dan Pileg 2019 yang baru saja lewat, kondisi tak jauh berbeda. Rata-rata TPS menuntaskan hasil perhitungan lewat tengah malam hingga pagi kembali menjelang.

Namun, satu hal yang membuat tercengang, ternyata tidak sedikit orang yang harus mendapat perawatan medis saat menjalankan tugas menyukseskan pesta rakyat tersebut. Tercatat, 374 anggota KPPS yang tersebar di 19 provinsi seluruh Indonesia jatuh sakit.

Bahkan, dikutip dari Media Indonesia (grup Lampung Post), Ketua KPU RI Arif Budiman mencatat hingga kini ada 90 orang meninggal saat mengemban tugas menjadi KPPS. Lima di antaranya berasal dari Lampung. Tak hanya petugas di TPS, 15 aparat kepolisian juga turut gugur saat menjalankan tugas mengawal Pemilu 2019.

Menanggapi hal ini, pemerintah akan memberikan penghargaan dan santunan kepada para petugas pemilu yang gugur dalam tugas, sedangkan untuk anggota kepolisian yang gugur akan mendapatkan kenaikan pangkat.

Mereka sejatinya ialah pahlawan demokrasi, yang telah berkorban demi suksesnya hajat akbar rakyat ini. Untuk itu, sudah menjadi kewajiban bagi para pemegang estafet demokrasi selanjutnya menjaga amanah yang telah sekuat tenaga mereka genggam dengan mempertarukan nyawa.

Menutup tulisan ini, teriring doa bagi para pahlawan demokrasi yang gugur dalam menjalankan tugas. Insya Allah husnul khatimah. Alfatihah...

loading...

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR