POTONGAN-potongan kayu menyambut tamu yang singgah ke Galeri Randu Mas milik Mulyono di Jalan Cendana No 27 Tanjungseneng, Bandar Lampung. Bangunan berwujud rumah panggung khas masyarakat Lampung itu sedari awal tampak menonjolkan ornamen khas Lampung pada setiap sisinya. Pucuk rebung, hingga motif jukung terukir pada pagar hingga lis atap bangunan.

Menginjakkan kaki di pintu utama, seekor patung gajah dari kayu kembali menyambut. Meski tidak berukuran besar, gajah tersebut cukup menarik perhatian siapa pun karena diletakkan tepat di depan pintu masuk.



Dinding ruangan pun tampak tidak biasa. Serpihan limbah kayu disulap menjadi wallpaper alami yang cantik dan memberi kesan hangat.

"Galeri ini saya gunakan untuk meletakkan barang-barang, sekaligus kalau ada anak-anak yang mau belajar ya di sini juga," ujar sang tuan rmah, Mulyono, beberapa hari lalu.

Pria kelahiran Solo tahun 1962 itu mengaku terinspirasi membuat semua perabotan berbahan dasar kayu, yang kemudian diaplikasi dengan sentuhan ornamen Lampung. Maklum, Mulyono mengaku sudah jatuh cinta pada kayu.

"Dari dulu saya suka kayu, supaya ada napas Lampung, saya sengaja membuat ornamen-ornamen khas Lampung," kata pria asal Lampung Timur itu.

Bangunan seluas 11 x 22 meter persegi itu menggunakan campuran dua kayu utama, yakni kayu oak merah yang banyak melapisi dinding, dan kayu merbau menjadi berbagai pelengkap seperti tiang hingga kusen.

Rumah panggung yang dibuat tahun 2004 itu memiliki beberapa area, yakni lantai dasar yang biasa dipakai sebagai ruang utama. Di tempat dikhususkan oleh Mul untuk memajang aneka karya yang dibuatnya dan para pekerja seperti aneka meja, kursi, dan sofa.

Masih di ruang utama, kita juga disajikan dengan pemandangan jembatan kayu antik yang menghubungkan dengan ruangan pembuatan aneka kerajinan.

Jembatan kayu sepanjang 1,5 meter itu makin menguatkan nuansa alami, dengan batu dan gemericik kolam berisi aneka ikan di bawahnya.

"Di tempat ini biasanya kami pakai untuk ruangan anak-anak SMK yang belajar," kata dia sambil menunjukkan ruangan di seberang jembatan.

Tidak berbeda dari lantai dasar, lantai dua bangunan yang dihubungkan dengan anak tangga kayu itu, digunakan Mulyono sebagai tempat display hasil karya miliknya.

"Kebetulan dari awal bangun bukan untuk rumah singgah, ini sebagian masih kita bongkar juga," ujar Mulyono, yang mengaku masih ingin terus berkreasi dengan kayu.

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR