DARI medsos beredar tentang pemberian penghargaan kemanusiaan kepada 18 tokoh bangsa. Penganugerahan itu digelar Komite Nasional Penegak Konsitusi (KNPK) yang dipimpin A Muhaimin Iskandar yang akrab disapa Cak Imin.

Namun, sedikitnya ada dua tokoh yang menolak penghargaan tersebut, yakni istri Munir, Suciwati, dan aktivis yang konsisten dalam perjuangan untuk menjalankan reforma agraria, yakni Gunawan Wiradi. Ia menolak bersanding dengan nama-nama besar sebagai pejuang kemanusiaan, seperti jurnalis Akhmad Taufik, penyair Wiji Thukul, penyair WS Rendra, dan pengacara Adnan Buyung Nasution.



Saya mencari siapa sosok Wiradi dari bilah mesin pencari. Sejak awal, Wiradi mencium ada latar belakang politik di balik penyelenggaraan kegiatan penghargaan kemanusiaan. Sebabnya, salah seorang tokoh besar pejuang kemanusiaan sekaliber Gus Dur tidak masuk penghargaan. Dia merasa dengan usia di atas 80 tahun tidak harus terlibat dalam polemik yang tidak perlu.

Terakhir, Wiradi mengungkapkan semangat yang melandasi pemikiran dan perjuangannya selama ini adalah prinsip vokasional bukan profesional. Ia menjelaskan perbedaan vokasional dan profesional.

Semangat profesional yang hanya berfungsi sebagai tenaga bayaran, semangat spiritual vokasional adalah lahir dari cetusan hati nurani, yang memperlakukan ilmu pengetahuan tidak sebagai barang dagangan, melainkan merupakan sesuatu milik publik yang harus diamalkan.

Karena itu, kata Wiradi, mengungkapkan pikiran ilmiah bukan diperlakukan sebagai dagangan, melainkan untuk disebarkan dan diamalkan sukarela. "Dengan demikian, pemikiran dan perjuangan yang saya lakukan hanya didedikasikan bagi kebaikan semua pihak tanpa ada kaitannya dengan kepentingan kelompok politik tertentu," ujar dia dalam akun Facebook-nya.

Ada begitu banyak pelajaran yang bisa didapatkan dari orang-orang rendah hati di negeri yang minim teladan. Selain Wiradi, ada Soesilo Toer (81), adik sastrawan besar Pramoedya Ananta Toer, yang bekerja memulung meski gelar doktor filsafat dari Plekhanov Institute Moskwa, Rusia, di tangannya.

Dari kumparan.com didapatkan informasi barang bekas itu dikumpulkan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Baginya, memulung adalah kenikmatan abadi. Dari usia dini, hingga kuliah ke luar negeri, dan sampai saat ini, pria yang hampir semua rambutnya beruban itu tetap memulung sampah di jalanan.

"Kerjalah yang benar jangan minta-minta. Kerja karena kerja itu mulia,” pesan yang selalu diingat Soesilo Toer. Ajaran orang tuanya ini juga sering direfleksikan dan dituliskan Pramoedya Ananta Toer untuk menjadi tuan atau majikan bagi diri sendiri, bukan orang lain.

“Saya kepengin jadi hakikat manusia yang menciptakan nilai lebih atau nilai tambah. Hakikat hidup saya, saya ngambil kata-kata dari Plautus, seorang dramawan Yunani kuno. Anda bukan manusia kalau Anda tidak mengerti hidup Anda sendiri.”

Pejuang kemanusiaan dan intelektual yang demikian ini sungguh memberi pembelajaran di tengah begitu banyak "akademisi/intelektual perkakas". Semoga negeri dilimpahkan orang-orang seperti ini.

 

 

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR