JUMLAH orang miskin di Indonesia berkurang 1,19 juta orang pada September 2017 menjadi 26,58 juta jiwa (10,12% dari total penduduk), dibanding 27,77 juta jiwa (10,64%) pada Maret 2017. Jumlah terakhir juga sudah lebih rendah dari saat Jokowi-JK dilantik Oktober 2014, yakni 27,30 juta jiwa pada September 2014.
Penurunan jumlah orang miskin yang amat signifikan, lebih dari satu juta jiwa dalam kurun enam bulan itu, menurut Kepala Badan Pusat Statistik Kecuk Suhariyanto, akibat rendahnya inflasi periode Maret-September 2017, hanya 1,45%. Kedua, kenaikan nominal upah buruh tani dan buruh bangunan.
Ketiga, turunnya harga bahan pokok, gula turun 9,74%, cabai rawit 57,69%, cabai merah 20,53%. Sedang kenaikan harga beras 0,69% bisa dikendalikan dengan bantuan beras sejahtera (rastra). "Rata-rata setiap bulannya selama Mei-Agustus 2017 rastra telah disalurkan kepada sekitar 30% rumah tangga," ujar Suhariyanto. (MI, 3/1/2016)
Di Lampung, meski garis kemiskinan naik dari Maret 2017 Rp384.882 konsumsi/orang/bulan menjadi Rp390.181 pada September 2017, juga terjadi penurunan jumlah orang miskin yang signifikan. Yakni, berkurang sebanyak 47,99 ribu orang, dari 1.131.730 orang pada Maret 2017 (13,69%) menjadi 1.083.740 orang pada September 2017 (13,04%) dari total 8,3 juta penduduk Lampung pada Juni 2017.
Tampak pada Septemher 2017 persentase kemiskinan di Lampung tercatat 13,04% dari jumlah penduduk, lebih tinggi dari tingkat nasional 10,12%. Artinya, pemerintah daerah, utamanya kabupaten/kota, harus lebih serius mengurangi kemiskinan agar tidak kian jauh jaraknya dengan tingkat kemiskinan nasional.
Daerah-daerah harus berjuang menjadikan sebagai pertanda kemajuan, angka kemiskinan daerahnya yang lebih rendah dari tingkat nasional. Sebaliknya tak bisa diingkari kenyataan bahwa kemiskinan yang lebih buruk dari tingkat nasional merupakan pertanda keterbelakangan suatu daerah dalam iringan konvoi pembangunan nasional.
Upaya mengurangi kemiskinan harus menjadi top of mind setiap kepala daerah, karena usaha itu sangat mulia melepaskan rakyat dari jerat penderitaan. Dengan garis kemiskinan pada Rp390.181 konsumsi/orang/bulan, jika dikurs Rp13.500/dolar AS menjadi hanya 28,9 dolar AS per bulan, sehari di bawah 1 dolar AS. Kehidupan yang parah, tak separuhnya pun dari garis kemiskinan Bank Dunia, 2 dolar AS/hari.
Itulah penderitaan rakyat yang harus diatasi oleh siapa pun yang memilih posisi jadi kepala daerah. ***

 

PENULIS

H. Bambang Eka Wijaya

TAGS


KOMENTAR