PANARAGAN (Lampost) -- OKNUM aparatur Tiyuh Margajaya Indah, Pagardewa, Tulangbawang Barat (Tubaba) diduga melakukan rekayasa administrasi kepemilikan lahan hibah untuk mencairkan uang gantirugi lahan tol sebesar Rp653 juta milik sebuah eks sekolah MTs di tiyuh setempat.

Pencairan uang gantirugi tersebut tanpa sepengetahuan pihak yayasan dan sekolah termasuk pemberi hibah karena pencairan diduga masuk kedalam rekening pribadi oknum aparatur tiyuh. Kasus ini telah dilaporkan ke Polres Tulangbawang dan kasusnya dalam tahap penyelidikan.



Berdasarkan informasi yang dihimpun dari berbagai sumber di tiyuh setempat, lahan sekolah yang tergusur tersebut merupakan lahan hibah dari mantan Babinsa Bustarani.  Lahan tersebut milik eks sekolah MTs yang berada dipinggir jalan desa di RT VII, RK III tepatnya berada di dekat sekolah TK milik lahan hibah Mujiono. Lahan yang tergusur sekitar 11×80 atau 1.160 M2  dengan nilai gantirugi sekitar Rp653 juta.

"Ya. memang ada lahan milik eks sekolah MTs yang terkena jalan tol. Tapi saya tidak tahu berapa luasan yang tergusur. Yang pasti lahan tersebut merupakan lahan hibah milik bapak Bustarani,"ujar ketua RT VII, Mustakim, saat ditemui dikediamannya, Sabtu (15/9/2018) siang.

Selaku aparatur tiyuh ditingkat bawah, Mustakim juga mengaku tidak mengetahui proses gantirugi atas lahan tersebut, karena hal tersebut menjadi kewenangan kepala tiyuh. Sehingga dirinya tidak mengatahui berapa nilai gantirugi dan masuk  rekening siapa uang gantirugi yang dikabarkan mencapai Rp653 juta tersebut. "Kalau mau lebih jelas tanya pak Solikhan selaku kepala tiyuh,"elaknya yang diamini Mbah Jari dan Surip warga setempat.

Hal senada juga dikatakan Mujiono, selaku pemilik lahan hibah TK yang berada didekat lokasi eks Mts tersebut. Dia mengaku lahan Mts yang tergusur jalan tol tersebut  merupakan sebagian dari lahan sekolah yang berisikan tanaman keras tanpa ada bangunan. 

"Lahan sekolah ini luasnya kurang dari satu hektare. Tapi yang tergusur hanya pingiran. Lahan ini sudah lama tidak digunakan pihak sekolah karena tidak ada siswa dan juga bangunan sekolahnya sudah ambruk,"ujar Musjiono.

Sementara itu, Bustarani selaku penghibah lahan mengakui lahan yang dihibahkannya ke Mts tersebut sebagiannya terkena gusuran jalan tol. Saat ini, lahan tersebut sudah diratakan dan digunakan untuk pembangunan jalur jalan tol. "Tapi saya gak tahu siapa yang ngambil uang gantiruginya, karena pihak sekolah juga tidak mengetahui hal ini, info yang saya dapat aparatur tiyuh yang mengambilnya ganti ruginya nilainya mencapai Rp653 juta,"ujarnya.

Sementara itu, kepala tiyuh Margajaya Indah, Solikhan enggan menemui wartawan saat akan dikonfirmasi terkait hal tersebut dikediamannya, Sabtu (15/9) siang. Padahal, yang bersangkutan berada didalam rumah. 

"Bapak dari tadi pagi jalan kaki keluar rumah entah kemana. Pokoknya dia gak ada dirumah, kalau telepon selulernya memang ditinggal makanya saya yang mengangkat saat ditelpon, "ujar Lastini, Istri Solikhan.

Ditempat terpisah, Camat Pagardewa Umar Usman mengaku tidak terlibat dalam kasus tersebut. Kasus tersebut murni tindakan oknum aparatur tiyuh tanpa melibatkan pihak kecamatan. "Kalau memang ada rekayasa surat tanah kami tidak tahu menahu, karena semuanya dilakukan oleh kepala tiyuh dan bendahara tiyuh, tanpa melibatkan saya selaku camat"ujarnya.

 

 

loading...

EDITOR

Firman Luqmanulhakim

TAGS


KOMENTAR