BANDAR LAMPUNG (lampost.co) -- Populasi penduduk muslim Indonesia adalah yang terbesar, tetapi pengguna jasa maupun produk ekonomi syariah baru berkisar 5%. Untuk itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI) Lampung terus mendorong perkembangan ekonomi syariah di Bumi Ruwa Jurai.
"Prospek ekonomi syariah itu luar biasa, secara bisnis ekonomi syariah tidak akan rugi. Oleh karena itu, OJK berkomitmen untuk terus mendukung ekonomi dan bisnis syariah untuk terus maju dan berkembang," kata Plt Kepala OJK Lampung, Indra Krisna, di GSG Fakultas Syariah UIN Raden Intan Lampung, Selasa (12/12/2017).
Hal itu diungkapkannya pada diskusi dan bedah buku Kumpulan Khotbah Bisnis dan Keuangan Syariah yang diselenggarakan MUI bekerja sama dengan OJK Lampung. Menurutnya, ekonomi dan bisnis syariah baru mengambil peran sekitar 5%. Padahal jumlah penduduk muslim sangat banyak.
"Ini perlu dorongan, jangan hanya 5%. Oleh karena itu satu cara kami dengan menerbitkan buku khotbah ini," ujar dia.
Ketua MUI Lampung Khairudin Tahmid mengatakan lembaga keuangan syariah di Indonesia telah ada sejak 1980. Pemerintah makin menunjukkan keseriusan dengan membentuk UU No.21/2008 tentang perbankan syariah.
"Namun ditinjau dari ukuran industri keuangan, kontribusinya tergolong kecil, baru sekitar 4%—5% dibanding industri keuangan konvensional. Oleh sebab itu MUI berkomitmen mendorong ekonomi dan bisnis syariah maju di Lampung,” kata Khairudin.
Untuk itu perlu dilakukan langkah strategis guna memberikan pemahaman kepada masyarakat luas tentang ekonomi dan bisnis syariah. "Dai perlu menyampaikan materi tentang ekonomi syariah ini. Tidak harus tentang ibadah, akidah, tetapi masalah ekonomi dan bisnis syariah agar ekonomi umat bangkit,” ujarnya. 

EDITOR

Isnovan Djamaludin

TAGS


KOMENTAR