KALIANDA (Lampost.co) -- Dibawah terik matahari, sekelompok pria yang terdiri dari orang dewasa hingga paruh baya berkumpul di tengah areal persawahan Desa Bandanhurip, Kecamatan Palas, Lampung Selatan, Kamis (22/11/2018). Satu per satu mereka saling bahu-membahu mengais rezeki sebagai buruh ojek sepeda padi.

Dengan kompak satu per satu dari mereka mengisi setiap lembaran karung dengan butiran padi yang baru saja dirontokkan oleh mesin alsintan combine harvester (pemanen padi). Tanpa ada rasa perbedaan, mereka saling membantu untuk membawa setiap karung padi.



Beberapa menit kemudian, satu dari mereka mulai menaikkan ratusan kilogram padi atau gabah kering panen ke atas sepeda yang dipergunakan untuk mengangkut. Rasa lelah dan letih dari mendorong sepeda hingga ratusan meter mereka hiraukan di saat mengais rezeki.

Salah satu dari buruh jasa ojek sepeda itu adalah Rudiansah (46) warga Desa Bandanhurip, Kecamatan Palas. Ia mengaku sudah sepekan hari terakhir ia melakoni pekerjaan buruh jasa ojek padi dari sepeda dari lahan sawah ke rumah petani.

Bapak tiga anak itu terpaksa mengais rezeki dengan cara mengandalkan otot demi mencukupi kebutuhan sehari-hari. Tak banyak yang ia dapatkan dari buruh ojek padi itu. Rudi, sapaan akrabnya, mengaku diupah berdasarkan jarak tempuh yang ditempuh.

"Lumayanlah kalau jarak tempuh sekitar 30-50 meter diupah sebesar Rp10 ribu per angkut. Tapi, jarak tempuhnya jauh kami diupah beda lagi bisa mencapai Rp20 ribu - Rp30 ribu ke atas," kata dia.

Menurutnya, dalam sehari ia hanya mampu mengumpulkan uang untuk anak dan istri berkisar Rp150 ribu—Rp200 ribu per hari. Pendapatan itu diakuinya sangat terbatas lantaran harus berbagi dengan buruh jasa ojek yang lainnya.

"Kalau musim panen, pendapatan saya bisa lebih dari Rp200 ribu per hari. Setelah musim panen selesai, enggak ada kerjaan. Ya, paling jadi buruh tani yang diupah berkisar Rp70 ribu-Rp80 ribu per hari," kata dia.

Meskipun demikian, Rudi mengaku selalu bersyukur atas rezeki yang didapatkannya selama ini. Yang terpenting, kata Rudi, keluarganya bisa ternafkahi.

"Ya, kalau dibilang kurang. Pasti kurang. Namanya kebutuhan pasti enggak ada cukupnya. Tapi, alhamdulillah saya terus bersyukur kami bisa makan dan anak bisa sekolah," ujarnya.

BERITA LAINNYA


EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR