DI panggung, perempuan muda itu menuntun lelaki tua yang buta. Tidak lama, dia mengucap, "Putriku, kita sampai di mana ini?" Kita telah sampai di hutan keramat ayah," jawab sang putri. Demikian kalimat pembuka pada pertunjukan teater satu yang berjudul Antropodipus karya sutradara Iswadi Pratama di Taman Budaya, beberapa hari lalu.

Dengan tergopoh-gopoh, dia membimbing lelaki yang badannya dipenuhi dengan kotoran dan debu, kulitnya keriput, serta pakaiannya compang-camping. Inilah kisah penderitaan laki-laki tua bernama Oidipus dan putrinya Antigone.



Lakon bertajuk Antropodipus ini diadaptasi dari naskah klasik asal Yunani Oidipus di Colonus karya Sophocles. Ya, teater yang mengambil latar dari kerajaan Athena dan Thebes ini meriwayatkan sosok Oidipus yang dibuang dari istana oleh kedua putranya, yakni Polynesis dan Eteocles. Selama terbuang, Oidipus hanya ditemani kedua putrinya, Antigone dan Ismene.

Selama kepergian sang ayah dari Athena, kondisi kerajaan itu makin buruk. Kedua putra mahkota, yakni Polynesis dan Eteocles, saling berebut takhta kekuasaan. Tidak jarang keduanya sering berselisih paham dan saling menjatuhkan demi mendapatkan kursi kekuasaan.

Akhirnya, kedua putra raja tersebut masing-masing mencari ayahnya dan memaksanya untuk pulang. Harapannya bisa memperbaiki kerajaan. Namun, Oidipus menolak ajakan kedua putranya bahkan bersumpah tidak akan kembali ke Athena. Oidipus juga mengutuk kedua putranya itu akan mati dan saling membunuh.

Dalam kondisi Oidipus yang kotor, hina, dan meminta-minta, serta berlindung di hutan keramat suci, Oidipus ditolong dan dilindungi oleh raja dari Thebes bernama Theseus.

Di akhir kisahnya, Oidipus berpesan kepada Theseus agar tidak ada yang menemukan jasad dan kuburnya kecuali Theseus. "Pesan yang ingin disampaikan melalui pementasan ini bahwa menghadapi hasrat manusia untuk mendapat kekuasaan tidak pernah ada habisnya. Manusia harus siap bertarung untuk menegakkan kebenaran," kata Iswadi.

Kolaborasi

Pementasan karya Iswadi ke-52 ini mengolaborasi bentuk budaya yang beragam, seperti pencak silat dari Indonesia, desain kostum bercorak Mediterania, koreografi, dan musik menyajikan khazanah musik Jepang, India, Persia, serta ragam busana lain.

Iswadi menambahkan hikmah lain yang bisa diambil dari pementasan ini adalah semua berhak dicintai dan mencintai kebenaran. Tidak seorang pun bisa menyempurnakan kebenaran di atas dunia.

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR