BEBERAPA waktu lalu, saya membaca komik bergambar di surat kabar Kompas. Komik berwarna yang diberi nama Catatan Eko & Nomi tersebut bercerita singkat tentang hemat dalam rumah tangga. Salah satu bagian ceritanya, ada seorang anak yang dimarahi neneknya saat hendak gosok gigi. Anak itu mengeluarkan odol yang panjang, sepanjang bulu sikat giginya.

Melihat kejadian ini, tidak ayal membuat sang nenek marah, sekaligus membuat anak itu heran. Ternyata, odol atau pasta gigi yang dikeluarkan cucunya itu banyak. Odol itu terlihat penuh sepanjang bulu sikat gigi cucunya. Anak itu pun bingung dan heran. Dia pun memberi tahu kepada sang nenek bahwa dia merasa benar mengeluarkan pasta gigi sebanyak itu, sepanjang bulu sikat giginya.



Kenapa dia melakukan hal itu? Ternyata, dia terinspirasi dari iklan salah satu pasta gigi di televisi. Iklan pasta gigi di televisi itu memperlihatkan orang yang ada di iklan itu memperagakan atau mengeluarkan pasta gigi sebanyak atau sepanjang bulu sikatnya. Nah, dari situlah, kenapa anak itu tadi mengeluarkan pasta gigi sebanyak itu, walaupun dimarahi neneknya dengan dalih berhemat.

Dari cerita itu, ketika dicermati, apa yang dilakukan cucu dan neneknya itu benar, menurut saya. Anak dengan lugu dan kepolosannya wajar saja meniru apa yang dilihatnya di iklan televisi itu dan menurutnya hal itu benar. Tapi, si nenek berdalih hal itu kurang baik dan sedikit boros.

Selain itu, dilihat dari sisi marketing, apa yang disampaikan di iklan tersebut bisa memengaruhi orang yang melihatnya, contohnya seperti yang dilakukan anak tersebut. Dampak dari beriklan pun terjadi.

Sementara itu, dari sisi ekonominya, bisa dibilang kurang tepat. Apabila yang dilakukan anak tersebut seperti itu setiap kali akan menggosok gigi, pasta gigi itu akan cepat habis. Tetapi, apabila digunakan secukupnya, pasta gigi akan lama habisnya.

Jadi, itulah tujuan iklan odol itu, semakin sering menggosok gigi dengan odol sebanyak itu, odol akan cepat habis, sehingga masyarakat sebagai konsumennya pun akan semakin cepat membeli odol yang baru. Jadi, ya mungkin itulah strategi bisnis.

Selain itu, komik bergambar di Kompas tersebut juga pernah membahas tentang berhemat. Waktu itu tentang minyak goreng yang dipakai berulang-ulang. Minyak goreng yang baru dibeli dan ketika dituangkan ke penggorengan, warnanya akan bagus. Tapi, ketika minyak goreng yang sama tersebut dipakai berulang-ulang, hingga berhari-hari, warnanya akan berubah, agak kehitam-hitaman. Dan, yang pasti, minyak bekas tersebut akan berdampak negatif bagi kesehatan kita.

Kasus yang seperti ini pun sering kita lihat di lingkungan kita. Jadi, berhemat perlu, tapi perhatikan juga apakah bermanfaat baik atau tidak bagi kita. n

 

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR