DIHADAPKAN kepada persoalan nyakak manuk semacam ini, suatu tindakan harus diambil oleh pihak orang tua si gadis, yaitu meminta dan menyerahkan pemecahannya kepada tua-tua kampung. Tegasnya menyelesaikan semua persoalan-persoalan ketika tersangkut soal prinsip nyakak manuk-nya seorang mekhanai dan persetujuan si gadis yang bersangkutan terhadap si mekhanai tersebut.

Atas dasar itulah para punyimbang atau perwatin kampung akan mengadakan musyawarah (merwatin) dan segera memberitahukan dengan mengutus lalang untuk melakukan urauan kepada pihak orang tua si bujang dan atau punyimbang-nya supaya bisa dilangsungkan perundingan. Termasuk apa saja langkah-langkah orang tua si mekhanai dan atau punyimbang-nya supaya bisa merundingkan langkah-langkah lebih lanjut dalam tata cara adat yang baku, mengenai pelaksanaan ngejuk ngakuk seorang bujang yang mengambil gadis (mekhanai ngakuk muli).



Alternatif pelaksanaan lanjutan nyakak manuk selanjutnya oleh pranata adat yang berkenan dengan soal ibal ngajuk ngakuk. Titi gematti adat ini sehubungan dengan perkawinan adat yang dapat ditempuh dengan tiga cara.

Pertama, dengan cara ittar pineng ngerabung sanggar atau ibal serbo. Kedua dengan cara ittar bumbang ratu dan ketiga dengan cara ittar bumbang aji.

Mengenai ketiga hal tersebut, cara manakah yang akan dipakai bergantung kepada pihak-pihak yang berkepentingan di dalam pembicaraan atau musyawarah antara mereka. Hal itu tentu saja berdasarkan kondisi serta situasi keadaan, termasuk dengan kemampuan yang dimiliki.

Namun harus sedapat mungkin memberikan solusi dan mengakomodasi harapan-harapan semua pihak. Terlebih bila dihadapkannya dalam keadaan yang sudah berupa suatu kenyataan yang tidak bisa tawar-menawar lagi.

Sebagai catatan penutup, dapat disampaikan bahwa prosesi adat nyakak manuk ini sudah sangat jarang sekali terjadi pada masyarakat adat Lampung. Bahkan dalam kurun generasi yang terdahulu pun sudah jarang sekali mendengar istilah tersebut.

Digalinya kembali hal ini semata-mata adanya iktikad untuk menunjukkan betapa dalam penerapan pranata dalam hukum adat Lampung yang walaupun terkesan keras, berani, tetapi tidak lepas dari sikap kesatrianya orang Lampung sebagai cermin hati yang jujur dan penuh tanggung jawab.

Dari pranata adat semacam itu bisa ditelusuri bahwa bila suatu tindakan masih dalam ruang lingkup yang sehat dengan landasan iktikad baik serta ditunjang oleh suatu rasa kebersamaan yang optimal. Kemudian dipadukan dalam langkah yang gigih dan bulat melalui proses musyawarah mufakat dalam merwatin, setiap permasalahan akan selalu bisa ditemui alternatif solusi jalan keluarnya. 

loading...

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR