SETELAH punyimbang atau perwatin menerima dan mendengar tetangguh atau apa yang disampaikan dan diserahkan oleh tuan rumah, para perwatin itu kemudian mengadakan pemufakatan atau musyawarah mufakat untuk mendapatkan kata sepakat. Musyawarah ini untuk menemukan langkah-langkah konkrit apa saja yang harus dilakukan untuk memenuhi keinginan sebagaimana yang diharapkan mekhanai dan kedua orang tuanya.

Selanjutnya adalah mengirim utusan ke desa sebelah yakni ke rumah orang tua si gadis. Oleh oleh para punyimbang atau perwatin diambil langkah dengan cara mengirimkan utusan (lalang). Utusan itu membawa sigeh (cerana) yang telah dipersiapkan dengan isi lengkap menuju rumah orang tua si gadis atau punyimbang-nya.



Pakaian yang dikenakan oleh para utusan (lalang) adalah sarung motif tua dengan membawa punduk berlilit pita atau kain putih, ber-selikap selendang handak (putih), dan kikat bercorak lurik tuha (tua).

Segera setelah para lalang sampai di tempat tujuan langsung menghadap kepada para perwatin atau punyimbang si gadis untuk memberitahukan maksud kedatangannya. Bahwa mereka datang atas utusan dari para punyimbang atau perwatin dan menyampaikan dari mana mereka berasal juga datang sambil menyorongkan singgeh (cerana) berikut isinya, serta menyampaikan apa gerangan tujuan atau pesan yang mereka bawa.

Intinya adalah tentang permohonan kesediaan untuk menerima kedatangan para punyimbang atau perwatin pihak yang telah mengutus mereka pada hari, tanggal, dan jamnya, untuk kiranya berkenan bisa diterima. Setelah ditemukan kesepakatan masalah waktu para lalang utusan kemudian kembali ke tempat asalnya setelah mendapatkan kepastian.

Kemudian para punyimbang atau perwatin di kampung si gadis yang telah menerima utusan lalang harus segera menyampaikan dan memberitahukan kepada orang tua si gadis mengenai berita tersebut secara tuntas dan jelas. Demikian pula tentang maksud dan tujuan para lalang, serta kemungkinan akan datangnya pihak keluarga mekhanai ke rumah keluarga si gadis, termasuk tentang jadwal waktu, hari, tanggal, dan jam kedatangan pihak mekhanai.

Teknis pelaksanaan praktik nyakak manuk demikianlah pada hari, tanggal, dan jam yang telah ditentukan itu. Rombongan yang dipimpin dan diiringkan para punyimbang/perwatin membawa si mekhanai yang akan melaksanakan proses nyakak manuk.

Pakaian yang biasanya dikenakan mekhanai adalah memakai sarung berungsung, bidak handak (putih), sabuk handak, selingkap (kerudung) bidak tuha, punduk (keris tua) dililit kain handak, bidak selempang (selendang di bahu) handak, sambil memegang ayam jantan yang telah diikat dengan kain putih. n BERSAMBUNG

loading...

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR