DAHULU, apabila seorang mekhanai (bujang) Lampung telah sampai waktunya untuk menikah dan siap mengarungi bahtera rumah, tetapi hubungannya tidak disetujui orang tua si gadis, biasanya ada proses yang dinamakan dengan istilah sebambangan atau larian.

Selain istilah sebambangan ada pula cara lain. Hal itu dapat terjadi apabila pada waktu bersamaan ketika si mekhanai sedang menjalin hubungan dengan si gadis, tetapi pada sisi lain pihak orang tua si gadis telah mengadakan hubungan atau pembicaraan yang konkret dengan pihak lain mengenai perjodohan anak gadisnya. Dikarenakan si gadis tidak mampu menolak keinginan orang tuanya untuk dijodohkan dengan laki-laki lain yang tidak ia cintai.



Apabila ia tidak sanggup memenuhi keinginan orang tuanya, si gadis akan meminta kepada si mekhanai yang dicintainya untuk menempuh cara nyakak manuk.

Dalam pengertian si mekhanai menjalankan salah satu cara dalam pranata adat Lampung yang dipakai seorang pria untuk memohon kebijaksanaan pihak orang tua gadis secara terang-terangan, gentle, dan kesatria agar bisa menerimanya  sebagai calon suami pendamping hidup anaknya.

Secara umum pranata adat semacam itu mengandung pengertian berupa penyerahan diri dan nasib secara penuh dan total dari si mekhanai terhadap apa pun kebijaksanaan yang akan diambil orang tua si gadis terhadapnya. Cara tersebut merupakan suatu jalan akhir bagi seorang mekhanai dan muli yang telah saling jatuh cinta, tetapi tidak ingin memakai cara sebambangan untuk memaksakan kehendaknya secara diam-diam. Namun secara kesatria bertemu kedua orang tua si gadis, terang-terangan, dan bersedia memikul segala risiko atau kemungkinan yang terburuk sekalipun.

Dalam proses dan pelaksanaannya, tradisi nyakak manuk akan melalui tujuh langkah pokok. Pertama, melakukan pemandai atau memberitahukan kepada punyimbang atau perwatin dimulai dari orang tua si mekhanai. Setelah kedua orang tuanya mengetahui dan mendukung niat dan tekad putranya untuk melaksanakan nyakak manuk, kedua orang tua mekhanai akan mengundang dengan memberitahukan segenap punyimbang pemuka adat serta berbagai pihak lain yang ada dalam lingkungan adatnya (merga, buay, dan suku).

Pada forum resmi itu, orang tua mekhanai menyampaikan permohonan dan pemakluman bahwa akan ada pelaksanaan nyakak manuk oleh putranya kepada seluruh punyimbang atau perwatin yang hadir.

Langkah kedua, menyorongkan sigeh pemandai yang berisi antara lain alat untuk menginang, rokok beberapa bungkus, dan sejumlah uang atau dau issi beli punyimbang yang bersangkutan. Kemudian dau galang sila, dau peserah, dan seperangkat pakaian adat yang diletakkan di talam dengan alas kain putih yang di atasnya terdapat punduk (keris pusaka tua).

Setelah semuanya dipersiapkan, langkah ketiga adalah melaksanakan musyawarah mufakat para punyimbang atau perwatin perihal akan adanya prosesi nyakak manuk yang akan dilaksanakan di desa sebelah. (R4) BERSAMBUNG

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR