NUWA panggung terdiri atas lima bagian utama; hatok, penaku, sesai, aghi, dan bah. Hatok nuwa dahulu terbuat dari bahan ijuk atau rumbia. Seiring perkembangannya kemudian berubah menjadi genting atau seng, tetapi tidak mengubah bentuk awal esensi sebuah nuwa panggung.

Bentuk dasar konstruksi bangunan tradisonal nuwa panggung umumnya segi empat (pesegi). Pengaturan massa bangunan sesuai dengan prinsip konstruksi tahan gempa, beban massa bangunan dipindahkan ke tiang-tiang bulat yang besar sesuai dengan besarnya beban yang diterima dari massa bangunan bagian atas.



Adapun massa bagian atap yang terletak pada bagian atas banyak menggunakan bahan-bahan organik yang ringan dan elastis seperti penggunaan kayu sebagai kasau dan ring dikombinasikan dengan bambu dan penutup ijuk atau rumbia. Lantai dan dinding rumah mayoritas terbuat dari papan kayu atau pelupuh (bambu yang dicacah melebar sehingga berbentuk lebar persegi panjang).

Apabila diurutkan dari bagian depan ruang-ruang nuwa panggung terdiri atas beberapa bagian. Pertama, tangga atau ijan yang umumnya berada di samping nuwa sebagai tempat untuk naik dan memasuki rumah. Bagian kedua adalah serambi atau mukak sebagai ruang depan tempat menerima tamu dan tempat bersantai keluarga. Untuk nuwa gedung, mukak juga disebut sebagai andang-andang.

Ruangan ketiga nuwa berupa kamar-kamar lebing dan kebik sebagai tempat tidur anak laki-laki dan anak perempuan. Ruang keempat adalah ruangan tengah atau halunan sebagai tempat berkumpul dan musyawarah keluarga dan kelima adalah dapor, terdapat sekelak sebagai tempat memasak dan ruang makan.

Konsep awal nuwa apabila dilihat dan diteliti yang berada di kampung-kampung tua memiliki konsep bangunan arah muka utara selatan yang berjarak agak berjauhan sehingga matahari dapat menyinari penuh nuwa dari pagi hingga sore hari.

Bentuk permukiman nuwa panggung pada zaman dahulu berbentuk linier sejajar dengan sungai karena selain sebagai tempat mata pencarian sungai juga sebagai sarana transportasi pada masa itu.

Nuwa panggung pada zaman dulu juga dipastikan tidak ada kamar mandi karena aktivitasnya semua dilakukan di sungai. Saat ini, mengikuti perkembangan zaman karena faktor transportasi yang digunakan adalah transportasi darat berupa mobil dan kendaraan bermotor lainnya nuwa berkembang menjauhi sungai dan mulai persebarannya linier sejajar dengan jalan raya.

Nuwa panggung saat ini sudah jarang sekali ditemukan kecuali di tiyuh-tiyuh tuha. Kalaupun ada sebagian telah mengalami perubahan, pada bagian bawah nuwa ada yang sudah berlantai semen, memiliki dinding, dan dijadikan tempat tinggal atau garasi mobil sehingga telah menghilangkan esensi dan keindahan dari nuwa panggung itu sendiri.

Ke depan, semoga dalam pembangunan di Lampung pemerintah daerah yang memiliki kebijakan dapat melestarikan dan mempertahankan fisik arsitektur tradisional nuwa panggung ini. Menjadikan wilayah tertentu sebagai wilayah konservasi budaya dengan tetap memperhatikan adat dan budaya masyarakat.

BERITA LAINNYA


EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR