TIDAK perlu diragukan lagi Nahdlatul Ulama (NU) yang didirikan sejak 31 Januari 1926 oleh KH Hasyim Asyari punya andil besar dalam merebut kemerdekaan. Amat banyak santri, ulama, dan tokoh Islam yang berkorban waktu, harta, bahkan nyawa untuk mengusir penjajah dari negeri ini.

Hal itulah mengapa ormas Islam terbesar ini menjadi salah satu yang turut berpartisipasi aktif mempertahankan kemerdekaan dengan menjaga persatuan dan keutuhan bangsa.



Hingga kini NU tegak lurus dengan paham ahlussunah wal jamaah. Mengambil jalan tengah antara ekstrem aqli (rasionalis) dengan kaum ekstrem naqli (skripturalis). Peran NU dalam menjaga moral dan ukhuwah tidak hanya bersumber dari Alquran dan sunah. Tetapi juga menggunakan kemampuan akal ditambah dengan realitas empirik.

Fakta menunjukkan di tengah hantaman badai politik identitas, NU menjadi salah satu ormas Islam yang istikamah menjadikan agama sebagai kekuatan moral untuk membangun peradaban. NU amat menyadari ada banyak jasa anak bangsa dari beragam suku, budaya, dan agama yang berbeda-beda dalam merebut kemerdekaan. Itu sebabnya, NU tetap amat menghargai perbedaan dalam mengisi kemerdekaan.

Bukan justru sebaliknya, merasa paling hebat dan berjasa hingga bersikap tidak pluralis, bertindak anarkistis pada minoritas, apalagi bertindak radikal. Maka sudah sepantasnya, anak bangsa menghargai ikhtiar NU dalam menjaga kebinekaan.

Sudah 73 tahun sudah bangsa ini merdeka. Disadari atau tidak, ada banyak pihak yang dengki melihat kerukunan di NKRI, mulai dari kelompok revivalis menebar gerakan radikalisme hingga aksi terorisme.

Gerakan radikalisme dengan agenda politik tertentu kini muncul dengan pola baru yang mengedepankan politik identitas. Kemudahan informasi teknologi dijadikan alat untuk mengoyak kebinekaan bangsa berasaskan Pancasila. Media sosial dijadikan sebagai jebakan dengan memunculkan ujaran kebencian dan SARA untuk membuat kegaduhan yang bisa memicu konflik horizontal.

Mengantisipasi beragam potret buram di masa lalu, pada tahun politik ini pemerintah pun sudah membuat langkah pencegahan dan penindakan. Para pelaku yang tergabung dalam Saracen dan Muslim Cyber Army ditangkap dan ditindak tegas. Aktor intelektual terus ditelusuri.

NU menyadari memberangus gerakan radikalisme, teroris hingga politik identitas yang dapat mengganggu kebinekaan tidak cukup hanya dilakukan pemerintah. Perlu peran rakyat dalam menjaga keutuhan bangsa berlandaskan Pancasila. Itu sebabnya NU memerintahkan nahdliyin seluruh Indonesia untuk turut menangkal gerakan radikalisme, termasuk menolak gerakan politik identitas.

Tidak terkecuali di Lampung. Ketua PW NU Lampung terpilih hasil konferensi wilayah ke-10 Moh Mukri dituntut turut berpartisipasi aktif membantu pemerintah memerangi hoaks, menangkal gerakan radikalisme, hingga terorisme yang mengatasnamakan agama. Hal itu agar bangunan demokrasi kita tidak makin dicemari pihak-pihak yang berpikiran politik sumbu pendek. Juga agar masyarakat Lampung tidak mereplikasi model politik identitas buta. Dengan begitu, sendi kehidupan berbangsa dan bernegara tidak tergoyahkan.

EDITOR

Abdul Gofur

TAGS


KOMENTAR