BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) -- Kapolda Lampung Irjenpol Suntana bersama pejabat utama (PJU) Polda Lampung menggelar nonton bareng (nobar), conversation with Kapolri Jenderal Tito Karnavian terkait penanggulangan terorisme di Indonesia, yang ditayangkan oleh Chanel News Asia, Kamis (5/7/2018) malam di Kantor Bhayangkari Polda Lampung.

Dalam wawancara ekslusifnya, Kapolri berkomitmen melawan aksi terorisme dan gerakan radikal. Kendati Tito menyebutkan perlawanan teroris baik jaringan Jamaah Islamiyyah (JI) dan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) dilakukan dengan upaya kekerasan beserta upaya preventif dan pemantauan, idelogi radikal dilawan dengan ideologi Pancasila.



"Cara menanggulangi ideologi radikal, ya lawannya ideologi juga, Pancasila. Walau Islam itu mayoritas di Indonesia, tapi ada beberapa provinsi yang mayoritas Hindu seperti Bali, Sulawesi Utara mayoritas Kristen. Kebhinekaan, dan Islam yang moderat kunci utama," ujar Tito dalam siaran itu.

Tito juga mengatakan sebenarnya Polri sudah banyak melakukan tindakan terkait penanggulangan terorisme baik, jaringan JI, maupun JAD yang mulai tumbuh 2011-2012 dengan pimpinan Aman Abdurahman.  

Tercatat sekitar 500 terduga yang telah ditindak, namun memang tak banyak yang dipublikasikan. Pola pengawasan pun 1 terduga teroris bisa dikawal 20-30 personel polisi.

Tito pun menyatakan tidak pernah berhenti melawan terorisme, walau  nanti sudah pensiun. "Polri dan BNPT sudah bertindak, dan terus berupaya agar masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh paham radikal, walau kini masyarakat sudah cerdas, tahu mana informasi hoaks yang kerap dijadikan alat untuk mendoktrin," kata Mantan Kepala BNPT itu.

Polisi juga terus melakukan pemantauan terhadap sel-sel atau jaringan radikal. Termasuk terduga jaringan JAD yang ada di Surabaya, sudah dilakukan pengawasan selama bulan.

Namun kini kekuatan polisi dalam melakukan pencegahan lebih besar, usai disahkannya  UU Nomor 15 Tahun 2018 tentang Terorisme. Kini polisi dapat melakukan pencegahan, tanpa perlu adanya kejadian, dugaan perencanaan dan jaringan bisa langsung ditindak.

"Di Surabaya kita sudah awasi, tapi emang soft dan tak bisa dipublikasi. Untuk pelaku satu keluarga di Surabaya, kita tidak bisa sematkan mereka sebagai pelaku tapi juga korban. Korban pemaparan paham radikal," kata alumnus Akbari 1987 itu.

Terakhir Kapolri optimistis bisa terus melawan terorisme, bukan  dengan tindakan tegas tapi dengan upaya deradikalisasi, dan juga pemberian pemahaman Islam Rahmatan Lil Al-Amin, dengan menggandeng berbagai stakeholder.

Karena Indonesia memiliki kekuatan polisi terbesar di dunia setelah Tiongkok. "Kita punya 444.000 personel, teroris tidak lebih dari 2.000 di Indonesia," jelas Tito dalam talkshownya.

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR