SESEORANG melaporkan kekayaannya Rp4 triliun, tetapi ia mengaku punya utang Rp8 triliun. Menurut logika sebenarnya ia miskin minus Rp4 triliun. Namun, ia justru masuk daftar orang terkaya negeri ini, bahkan dengan uangnya ia mengatur para politikus mengikuti kehendaknya. Itu berkat ia piawai menikmati hidup sebagai manusia merdeka berkemajuan.

Di sisi lain, ada 25,95 juta orang hidup di bawah garis kemiskinan, padahal secara logis mereka Rp4 triliun lebih baik dari si terkaya. Itu hanya karena mereka kurang pintar menikmati sebagai bangsa merdeka yang berkemajuan.



Sebagian dari mereka tertahan di bawah garis kemiskinan akibat frustrasi meyakini ekonomi negaranya segera runtuh, sesuai retorika politikus kolega si terkaya, yang membuat mereka jadi banyak melamun dan merokok tiada henti. Sebagian besar dana PKH, bansos, dan bantuan lainnya dari pemerintah ia habiskan untuk beli rokok sehingga belanja pangan keluarganya tereduksi, keperluan sekolah anaknya terbengkalai.

Mereka korbankan kebutuhan fisik keluarganya (belanja pangannya dikurangi untuk beli rokok), maupun kebutuhan kulturalnya (sekolah anaknya terganggu). Betapa buruknya akibat percaya retorika hoaks.

Oleh karena itu, tugas utama pendamping program PKH adalah menangkal hoaks yang membuat warga frustrasi, merusak hidup dan masa depan keluarganya. Kedua, merevolusi mental peserta program untuk mengurangi rokok.

Lalu, memandu warga peserta program untuk menikmati bantuan pemerintah, yang menurut data BPS pada kuartal II 2018 meningkat 61,69%, sebagai sarana menata masa depan keluarga yang berkemajuan. Orientasi ke masa depan itulah esensinya sehingga besaran bantuan PKH didasarkan pada jumlah dan jenjang sekolah anak-anak di keluarga.

Baca Juga:

Nikmati Merdeka Berkemajuan! (1)

Retorika kondisi ekonomi, antara lain terkait defisit neraca berjalan (current account deficit). Menurut Direktur Eksekutif Kepala Statistik Bank Indonesia Yati Kurniati, surplus neraca perdagangan nonmigas pada kuartal II 2018 sebesar 3 miliar dolar AS, lebih kecil dari kuartal I 2018 yakni 4,7 miliar dolar AS. Padahal, defisit perdagangan migas naik 2,7 miliar dolar.

"Peningkatan defisit neraca perdagangan migas dipengaruhi naiknya harga minyak global dan permintaan yang lebih tinggi saat Lebaran dan libur sekolah," ujar Yati. (Kompas.com, 10/8)

Nah kenikmatan mudik Lebaran dan libur sekolah yang harus difasilitasi negara, itulah penyebab utama defisit. Itu jelas, demi rakyat bisa menikmati kemerdekaan berkemajuan. Merdeka!

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR