SECARA mendasar selama ini adat budaya Lampung hidup dan berkembang berbasis filosofi atau pandangan hidup yang di dalamnya terdapat nilai-nilai etika, sistem moral, estetika, seni, bahasa, dan nilai-nilai spiritual yang bersifat religius.

Banyak ajaran tentang filsafat, falsafah, dan tata titi adat yang kesemuanya dapat dihimpun dalam belasan cabang peninggalan warisan kearifan lokal, seperti ritus atau upacara adat, sastra, dan nilai sosial. Kemudian kesenian, bahasa, aksara, arsitektur, makanan, pakaian adat, perkakas rumah tangga, senjata, permainan, olahraga, sampai pengobatan secara tradisional.



Masing-masing bentuk warisan tersebut terbagi lagi ke berbagai bentuk, seperti upacara adat; mulai dari pernikahan, kelahiran, sampai kematian. Bahasa Lampung meliputi Lampung Abung, Lampung Sungkai, Lampung Menggala, Lampung Pubiyan, Lampung Way Kanan, dan Lampung Pesisir yang masing-masing memiliki dialek serta subdialek bahasa berbeda.

Adat budaya tersebut lahir, berkembang, dan terbentuk sebagaimana menurut teori Soerjono Sukanto, baik melalui aspek sosiologis maupun aspek yuridis, yaitu melalui interaksi yang berlanjut ke pengalaman. Menjadi pola pikir yang kemudian menjadi nilai, sikap, dan perilaku lalu menjadi kebiasaan dan norma. Sebab, budaya hukum yang sebagian besar atau secara garis besar tidak tertulis menjadikannya terus-menerus hidup dan berkembang menyesuaikan dengan perkembangan zaman.

Komunalistik, religius, dan kekeluargaan adalah ciri utama masyarakat adat. Makan tidak-makan yang penting kumpul adalah slogan yang sering kita dengar dari masyarakat yang masih kental budaya adatnya, terutama pada masyarakat perdesaan.

Kebersamaan, gotong royong, dan persaudaraan dalam hal ini pada masyarakat adat Lampung terejawantah melalui berbagai kegiatan, seperti begawi, angkon muwari, canggot, ngelama, nugal, ngebanton, bekadu, dan manjau pirul. Beragam kegiatan itu teraplikasi melalui nilai-nilai sosial orang Lampung, yaitu piil pesenggiri, sakai sambayan, nemui nyimah, nengah nyampor, dan bejuluk beadek.

Ada sebuah kegiatan muli-mekhanai Lampung dalam rangka pelaksanaan salah satu rangkaian acara pernikahan adat Lampung Pepadun, khususnya bagi penyelenggaraan perkawinan melalui prosesi nguruk diway kegiatan sebelum acara canggot, yaitu ngelepok. Ngelepok adalah salah satu rangkaian dari beberapa rangkaian acara dalam pelaksanaan tradisi pernikahan orang Lampung Pepadun, khususnya marga Sungkai Bungamayang.

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR