DALAM proses kelahiran seorang bayi ada banyak tradisi ulun Lampung tumbai dalam menyambutnya, selain silih darah, nabor sagun, dan ruyang-ruyang. Sebab, kelahiran seorang bayi adalah bertambahnya anggota keluarga, secara otomatis bertambah pulalah bagian dari sistem kekerabatan adat.
Dalam sistem kekerabatan adat Lampung sendiri ada banyak istilah hubungan kekerabatan, setiap kerabat atau keluarga memiliki tempat, fungsi, dan kedudukan yang berbeda-beda ketika dalam pelaksanaan tradisi adat. Contoh istilah sistem kekerabatan orang Lampung, seperti kelama, kemaman, keminan, kenubi, lebu benulung, pirul, sabay, anak ngemian, anak mantu, embai, kelepah, puwari, dan nakbai, setiap klasifikasi kerabat memiliki fungsi, peran, dan kedudukan masing-masing dalam setiap pergaulan atau pelaksanaan upacara-upacara adat.

Bertandang ke Rumah Besan



Setelah seorang anak dalam sebuah keluarga lahir ada tradisi ngelama. Ngelama dalam pelaksanaan prosesnya yaitu pihak keluarga sang bayi, meliputi ayah, ibu, dan keluarga besarnya, datang bertandang ke rumah keluarga pihak besan (sabai) dengan membawa barang-barang bawaan, seperti kerbau, sapi, kambing, dan ayam atau ikan. Kemudian makanan bawaan lainnya seperti buah-buahan, lauk-pauk, dan kue tradisional khas Lampung yang dibawa pada saat ngelama, yaitu wajik.
Wajik adalah makanan yang rasanya manis terbuat dari bahan dasar ketan dan gula aren sebagai makanan yang wajib dibawa sebagai buah tangan yang kemudian dibagikan kepada semua tetangga sekitar rumah atau kampung dan keluarga besar pihak besan. Mungkin, secara makna tersirat berbagi kue wajik meskipun sedikit, dipastikan semua keluarga dan tetangga satu kampung dapat adalah berbagi manisnya kebahagiaan kepada semua orang dalam bingkai ukhuwah dan persaudaraan.
Tujuan kedatangan pihak bayi dan keluarganya adalah untuk menemui pihak kelama yang dalam hal ini adalah saudara laki-laki dari ibu sang bayi untuk disambungkan secara resmi tali persaudaraannya sehubungan dengan kelahiran sang bayi. Barang-barang bawaan dari keluarga sang bayi dalam hal ini statusnya adalah sabai, anak ngemian, pirul, dan benulung, kemudian dipotong dan dimasak dan disajikan untuk dimakan secara bersama-sama dengan mengundang saudara, tokoh-tokoh adat, perwatin, juga tetangga di sekitar kampung.
Makan-makan biasanya dilakukan dengan cara nyetar atau makan secara bersama-sama lesehan memanjang dengan lauk-pauk tradisonal, seperti gulai daging kerbau, seruit, lalapan, dan pindang ditemani buah-buahan, kue-kue kering dan basah, seperti lempuk, segubal, wajik, dan legit.
Ngelama adalah salah satu proses menerangkan saudara selaku kelama si bayi kepada orang-orang di sekitar kampungnya dan juga tokoh-tokoh adat serta masyarakat dengan mengundang makan bersama. Kemudian dalam pertemuan tersebut disampaikan bahwa sang bayi telah memiliki kelama sehingga ke depan dalam acara-acara adat dan prosesi adat sudah jelas siapa kelamanya serta saudara-saudara kerabatnya yang lain. Biasanya dalam pepancor atau pantun dalam pemberian gelar adat nama kelama sering dicacak (disebutkan), seperti di unggak di liba lebu kelama tantu.
Dalam sistem kekerabatan orang Lampung, kelama adalah salah satu saudara atau kerabat dalam adat yang penting kedudukannya dalam masyarakat adat karena kedudukannya istimewa tersebut, seperti pada saat acara perkawinan, begawi, nguruk diway, dan sebagainya, dibutuhkan fungsi kelama pada saat ritual acara tertentu. Sehingga, apabila tidak ada kelama dalam masyarakat adat Lampung kemudian mengenal istilah angkon mengangkon atau mengangkat saudara selaku kelama sebagai prasyarat dari pelaksanaan acara prosesi adat.
Hubungan kekeluargaan yang erat, persaudaraan, kerja sama, silaturahmi yang erat adalah nilai-nilai yang dapat diambil dari adanya acara ngelama dalam adat masyarakat Lampung. Hal-hal positif inilah yang perlu terus dijaga dan dilestarikan sebagai identitas bangsa, khususnya ulun lappung di tengah makin tumbuhnya perilaku atau sikap acuh tak acuh terhadap saudara dan makin tipisnya rasa kekeluargaan akibat pengaruh dari gaya hidup modern yang individualistis.  Waalahualam bissawab.

EDITOR

Isnovan Djamaludin

TAGS


KOMENTAR