KRUI (Lampost.co) -- Menyambut datangnya bulan suci ramadan banyak tradisi-tradisi yang dilakukan sebagai bentuk rasa syukur dan penghormatan akan tibanya bulan penuh berkah bagi masyarakat muslim.  

Diantaranya seperti arak-arakan pawai obor, pengajian berjamaah, memberikan santunan kepada anak yatim piatu serta fakir miskin, dan masih banyak lagi cara masyarakat dengan cara yang berbeda di masing-masing daerah.



Begitu juga di Kabupaten Pesisir Barat (Pesibar), tepatnya di Pekon Lintik, Kecamatan Krui Selatan, Kabupaten Pesisir Barat, terdapat sebuah tradisi yang kerap dilakukan oleh masyarakatnya sebagai bentuk rasa syukur akan datangnya bulan ramadan yaitu dengan cara 'Ngejalang'.  

Tradisi ngejalang sampai saat ini masih terus bertahan dan ada setiap beberapa hari sebelum berpuasa. Dimana masyarakat di masing-masing pekon atau desa berkumpul bersama di masjid, dengan membawa pahar (nampan khas Pesisir Barat) dari rumah mereka.  

Pahar tersebut berisi berbagai macam makanan yang akan disantap bersam-sama usai melaksanakan doa bersama. Di dalam masjid masyarakat berkumpul usai melaksanakan salat Ashar, sembari membawa makanan terbaik mereka dari rumah yang diletakkan di dalam pahar.  

"Masyarakat kumpul dimasjid untuk berdoa bersama dalam rangka menyambut ramadan. Usai doa bersama baru menyantap hidangan yang disediakan dalam pahar. Itu disebut ngejalang," ujar Novan, salah seorang warga setempat, Rabu (16/5/2018).

Dengan berkumpul dan menyantap hidangan bersama, harapan yang tertumpuk yaitu tetap terjalinnya tali silaturahmi diantara masyarakat pekon setempat dan juga bersama menyambut datangnya bulan suci ramadan. 

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR