DARI berbagai macam tanaman obat yang dipercaya turun-temurun, ada beberapa metode pengobatan tradisional orang Lampung zaman dahulu yang saat ini masih dipakai di tiyuh-tiyuh tuha, seperti dengan cara diminum, dikompres, dan dioleskan. Ada pula metode pengobatan tradisonal lain, seperti dengan cara timbuk mandi (memercikkan air berkali-kali kebagian yang akan diobati), bertangus (menutupi diri dengan terpal atau tikar di bawah teriknya matahari untuk menurunkan suhu badan atau menyegarkan badan).
Selain itu ada sebuah metode pengobatan tradisional Lampung zaman dulu yang nyaris tidak ada efek samping bagi kesehatan tubuh manusia. Pengobatan tradisional tersebut disebut dengan ngeberus. Ngeberus adalah salah satu metode pengobatan tradisional menggunakan tanaman, yaitu daun kayu paya.
Tujuh lembar daun kayu paya yang telah diikat menjadi satu dicampur beberapa butir beras dan kunyit yang kemudian dikunyah sampai menjadi lembut kemudian disemburkan ke arah perut pusar yang tampak dirasa keras ngehati-nya oleh si tabib. Daun kayu paya bercampur beras dan kunyit yang sudah hancur bercampur air liur tersebut dibiarkan menempel, meresap sampai mengering. Setelah benar-benar kering obat hasil berusan yang menempel tersebut dapat dibersihkan dan dapat dilakukan pemberusan lagi.
Proses ngeberus dilakukan beberapa kali sampai pasien dipastikan sembuh dari penyakit yang dialaminya. Pengobatan dengan metode ngeberus itu diyakini berkhasiat untuk mengobati orang yang sedang sakit karena tegor-tegoran (penyakit yang disebabkan karena gangguan makhluk gaib).
Metode pengobatan dengan cara ngeberus saat ini sudah sangat jarang sekali ditemui pada masyarakat Lampung bahkan bisa dikatakan untuk diperkotaan sudah tidak ditemukan lagi. Perkembangan teknologi kesehatan dan kedokteran serta hilangnya habitat tumbuhan kayu paya menjadi faktor penyebab hilangnya metode pengobatan ini.
Padahal bentuk pengobatan seperti ini adalah salah satu bagian dari kearifan lokal masyarakat adat Lampung, hal itu tidak ada pada daerah lain. Penemuan kembali, penjagaan dan pemeliharaan kekayaan kearifan lokal daerah merupakan kewajiban yang harus diemban seluruh elemen masyarakat, khususnya orang Lampung itu sendiri.
Seperti pepatah Lampung, mak ganta kapan lagi, mak ram sapa lagi (Kalau bukan sekarang kapan lagi, kalau bukan kita siapa lagi).
 

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR