SAAT ngulom untuk ngebanton tiyuh, dalam surat undangan atau uloman tersebut, selain berisi pemberitahuan bahwa akan dilaksanakan acara ngebanton juga harus berisi biya uang adat yang berkisar dari angka Rp12 (bisa berupa Rp12 ribu, Rp120 ribu, Rp1,2 juta, Rp12 juta, dan seterusnya sesuai kemampuan panitia). Biya itu kemudian dibagikan kepada paksi-paksi tiyuh yang akan diundang.

Selanjutnya pada hari yang telah ditentukan para paksi, kepenyimbangan, dan perwatin adat akan mengadakan himpun adat atau musyawarah dengan sesumbahan antara pihak tiyuh-tiyuh yang diundang dan dihadiri tokoh-tokoh adat bidang suku setempat. Musyawarah bertujuan segera melanjutkan proses selanjutnya, yaitu tahapan pelaksanaan prosesi ngebanton tiyuh yakni dengan melaksanakan canggot ngebanton.



Canggot ngebanton itu diawali dengan acara canggot pumpung atau canggot pembukaan yang dihadiri seluruh muli perwakilan paksi dan kepenyimbangan yang akan membentuk tiyuh. Canggot ini dilaksanakan menggunakan pakaian adat lengkap yang dilakukan mulai dari pagi hingga malam hari. Panitianya adalah bujang gadis atau muli mekhanai yang merupakan gabungan beberapa tiyuh.

Pelaksanaan canggot diadakan di lokasi tiyuh yang akan dibuka, para pemudi atau peserta canggot yang mewakili paksi-paksi dan kepeyimbangannya datang memenuhi undangan sekaligus menjadi saksi pelaksanaan pemaksian di sesat adat. Acara canggot ini dilaksanakan oleh para penglaku (panitia adat) yang terdiri atas muda mudi yang dikepalai kepala mekhanai.

Rangkaian terakhir dalam pelaksanaan ngebanton tiyuh adalah acara pemaksian atau pelantikan empat paksi dengan prosesi tari dan tigol. Pada malam harinya dilakukan kegiatan tari untuk masing-masing satu dari empat paksi yang melakukan tari dengan 11 tumbuk tari, yaitu 11 penyimbang yang diundang. Total 12 kali minjak nari (bangun menari).

Kemudian kegiatan siang harinya dilakukan tigol untuk masing-masing satu dari empat paksi melakukan tigol dengan 11 tumbuk tigol, yaitu 11 penyimbang, dengan total 12 kali minjak tigol.

Selesainya prosesi tari dan tigol yang merupakan acara puncak ngebanton tiyuh pada rangkaian pemaksian, selesailah tahapan dalam prosesi pembentukan tiyuh. Oleh karena itu tiyuh tersebut telah memiliki empat paksi yang memiliki kedudukan sebagai penyimbang utama dalam tiyuh-nya. Masing-masing paksi memiliki kedudukan yang sama antara satu dengan yang lain.

Secara hukum adat tiyuh baru ini telah sah berdiri dan menjadi bagian dari tiyuh-tiyuh lain yang telah ada sebelumnya. Secara hukum juga berhak untuk mendapatkan perlakuan yang sama dengan tiyuh-tiyuh lain dalam setiap pelaksanaan acara-acara adat.

Tiyuh yang dalam hal ini desa di Lampung mempunyai karakteristik yang berbeda dari desa pada umumnya karena pembentukan tiyuh memiliki pengaruh unsur adat di dalamnya. Tiyuh ini pada prinsipnya merupakan warisan masyarakat lokal yang dipelihara secara turun-temurun yang tetap diakui dan diperjuangkan oleh pemimpin serta tokoh-tokoh adat agar dapat berfungsi mengembangkan identitas sosial budaya lokal.

Tiyuh adalah sebuah kesatuan masyarakat hukum adat yang secara historis mempunyai batas wilayah dan identitas budaya yang terbentuk atas dasar teritorial, yang berwenang mengatur serta mengurus kepentingan-kepentingan berkaitan dengan ruang lingkup hukum adat.

Ngebanton tiyuh adalah salah satu sarana pelestarian tiyuh adat dan budaya Lampung di era globalisasi. Sebab pembentukan tiyuh adat adalah salah satu sarana pelestarian budaya. Dengan ngebanton tiyuh secara otomatis melestarikan prosesi yang di dalam pelaksanaannya wajib melibatkan tiyuh-tiyuh adat lain.

Ini sejalan dengan redaksional Pasal 4 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa bahwa pengaturan desa bertujuan melestarikan dan memajukan adat masyarakat desa serta memajukan adat, tradisi, dan budaya masyarakat yang ada di dalamnya.

loading...

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR