BAGI masyarakat adat Lampung, ada nilai sosial yang menjadi falsafah hidup dan telah mendarah daging, tumbuh, serta berkembang lama bersama masyarakat sehingga menjadi identitas dan ciri orang Lampung. Nilai sosial itu adalah nemui nyimah.
Secara bahasa, dalam bahasa Lampung, nemui berasal dari kata dasar temui yang berarti tamu, sedangkan nemui sendiri diartikan sebagai menerima tamu, menerima kunjungan, menjalin silaturahmi, saling bertemu, dan menyambut dengan penuh suka cita. Kemudian nyimah berasal dari kata dasar simah, yaitu murah hati, sopan santun, tidak pelit, murah senyum, dan ramah pada siapa saja. Kata awalan nyi (miah) dalam nyimah maksudnya adalah berperilaku.
Jadi nemui nyimah diartikan sebagai berperilaku yang sopan santun, bermurah hati, serta ramah tamah terhadap semua pihak yang datang, dan oleh orang Lampung dijadikan sebagai titie gumantie atau tata cara ketentuan pokok yang selalu diikuti yang diwariskan secara turun-temurun.
Nemui nyimah adalah salah satu nilai sosial atau falsafah hidup orang Lampung selain piil pesenggiri, sakai sambayan, nengah nyampur, dan bejuluk beadok yang menjadi prinsip hidup dalam bergaul di kehidupan sehari-hari. Jadi berdasarkan prinsip hidup nemui nyimah tadi, sudah seharusnya setiap orang Lampung memiliki sikap ramah, terbuka, tegur sapa, penuh keakraban, dan kehangatan. Bukan sebaliknya, bila bertemu dengan orang Lampung yang terlihat kesan sangar, mudah marah, gampang tersinggung, bersuara kasar, dan perilaku yang tidak menunjukkan nilai-nilai nemui nyimah itu sendiri.
Konsep sistem kearifan lokal sebenarnya berakar dari sistem pengetahuan dan pengelolaan keluarga pada masyarakat adat, hal ini dikarenakan kedekatan hubungan mereka secara intensif dan intim antara satu dengan yang lain.
Melalui proses interaksi dan adaptasi dengan lingkungan sekitar yang mendalam dan panjang, masyarakat adat mampu mengembangkan cara untuk menciptakan sistem nilai, pola hidup, serta sistem kelembagaan dan hukum yang selaras dengan kondisi di sekitar tempat tinggalnya, sehingga tercapai sistem sosial yang selaras, serasi, dan seimbang.
Nemui nyimah adalah warisan nenek moyang sebagai acuan bersikap memberikan pedoman bagi perilaku pribadi dan masyarakat adat Lampung sejak zaman dahulu hingga saat ini bagi yang masih benar-benar memegang teguh titie gemattei adat sehingga tercermin dalam perilaku, moral, akhlak, dan etika dalam pergaulan hidup sehari-hari.
Sebenarnya konsep nemui nyimah apabila diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari seperti dalam hal konsep pelayanan publik secara prima dan pengaturan pelaksanaan tata pemerintahan akan menghasilkan pengaruh positif terhadap sebuah kinerja, khususnya dalam tata pemerintahan yang baik, terutama pada sektor pelayanan publik.
Bahwa konsep, prinsip, dan nilai-nilai yang terkandung di dalam nemui nyimah dapat dijadikan sebagai model dalam membentuk perilaku yang ramah, sopan santun, murah senyum, dan bersikap melayani dengan penuh rasa tanggung jawab. Sehingga prinsip nemui nyimah-nya orang Lampung dapat diterapkan ke lingkungan perkantoran atau sektor pelayanan publik pemerintahan, seperti rumah sakit, kantor pajak, sampai ke ranah swasta, di antaranya restoran, hotel, dan tempat-tempat publik lainnya yang fokus pada bidang pelayanan masyarakat. Atau bisa juga konsep kearifan lokal, nemui nyimah juga dapat dilakukan dalam hal tata pergaulan dengan orang asing atau masyarakat luar Lampung.
Nemui dengan adanya kedatangan orang-orang pendatang, seperti orang di luar Provinsi Lampung atau bahkan turis dari luar negeri, akan merasakan keramahan sambutan dari orang Lampung sehingga para pengunjung dan tamu yang datang akan merasa benar-benar dilayani dan merasa betah dan memiliki niat untuk datang kembali.
Konsep nemui nyimah adalah sebuah konsep kearifan lokal masyarakat adat Lampung terhadap sistem penyambutan dan pelayanan untuk terwujudnya sistem pembangunan yang humanis dan kekeluargaan yang saat ini sudah mulai dilupakan. Ke depannya, sangat perlu dilakukan penggalian dan penelitian kembali secara mendalam yang dilakukan oleh peneliti tentang nilai-nilai yang termuat di dalam pembentukan karakter nemui nyimah itu sebagai model atau konsep pembelajaran yang dapat diimplementasikan untuk menciptakan pelayanan yang terbaik.
Perlu digali kembali untuk dapat menerapkan pelaksanaan konsep ini dalam bentuk pembangunan hukum, pembangunan manusia dan jiwanya, serta pembangunan fisik yang sesungguhnya. Sehingga keberlangsungan dan kelestarian nilai-nilai budaya yang memang sudah ada sejak ratusan tahun telah turun-temurun tertanam, akan terus hidup dan berkembang untuk kemajuan dan kesejahteraan masyarakat Lampung itu sendiri.  *

loading...

EDITOR

Isnovan Djamaludin

TAGS


KOMENTAR