BANDAR LAMPUNG (Lampost.co)— Meski telah dilarang, nelayan di peisir Teluk Lampung masih akrab menggunakan bom ikan. 

Berdasarkan penelusuran, beberapa nelayan menyatakan masih menggunakan bom ikan namun dengan daya ledak rendah.  



Jono (35) nama samaran nelayan di Kecamatan Teluk Betung Selatan,Kota Bandar Lampung tampak bersiap siap akan berangkat melaut.  Sebelum berangkat melaut,Jono terlebih dahulu memesan bom ikan untuk dibawanya melaut melalui ponsel miliknya. Setelah dipesan bom ikan akan diantar oleh penjual ke kapalnya.

"Enggak semua orang bisa pesan, pemesanan bom ikan akan dijual kepada orang yang sudah dikenal saja dan barangnya langsung di taroh dikapal," kata Jono, pekan lalu.

Setelah bom ikan berada di kapal, Jono dan rekannya berangkat melaut dengan modal empat botol bom ikan. Menurutnya, harga bom ikannya hanya sekitar Rp 25 ribu per botol, sasarannya untuk ikan jenis teri.  

Jono dan rekannya langsung berangkat melaut menempuh jarak dua jam setengah sampai di tempatnya mencari ikan.  Jono dan rekannya mempersiapkan bagan untuk mengulurkannya ke dalam laut. "Setelah semuanya beres dipasang tinggal menunggu saja, ikan biasanya adanya malam, tengah malam atau menjelang subuh, kalau ikan kelihatan banyak baru dikeluarkan bom dan dinyakan bomnya, nanti meledak di dalam,  tek-tek dum- dum," ujarnya.

Setelah bom ikan diledakan, ikan yang mabuk tersebut masuk ke area bagan tancap dan di dalam alat yang ada di bagan. Selanjutnya alat tangkap ditarik dan digulung untuk menangkap ikan yang telah mabuk dan masuk kedalam alat tangkap.

"Kalau dapat (ikan)  tergangtung rezekinya, terkadang along(dapat banyak) kadang bisa zonk. Yang jelas ada saja ikan dibawa pulang maskipun terkadang enggak banyak, "ujarnya.

Dia menyadari bahwa menggunakan bahan peledak atau bom ikan dilarang namun Jono tidak ada pilihan, jika tidak menggunakan bahan peledak,ia rasa hasil tangkapannya lebih sedikit.

"Terkadang ada rasa takut, takutnya pas apes ditangkap sama polisi tapi kebanyakan yang apes ditangkap petugas, karena mereka pada tidur semua, jadi petugas dapat bom ikan nya  kalau enggak tidur semua kan bisa dibuang ke laut," ujarnya.

Hal yang sama juga disampaikan di sampaikan Joni (48) nelayan asal Kecamatan Teluk Betung Timur, Kota Bandar Lampung. Ia mengaku masih memggunakan bahan peledak atau bom ikan untuk mencari ikan diwilayah perairan Teluk Lampung.

"Melihat situasi saja,  kalau ada operasi dari petugas kepolisian,  saya enggak menggunakan bom,  bahkan petugas sering masuk ke kapal saya tetapi karena tidak ada barang bukti, tidak bisa nangkap. rata-rata, nelayan masih pada menggunakan bom ikan," kata Joni.  

Joni menjelaskan, dia biasa menggunakan bom ikan yang sudah dipesan  dan di simpan di pulau agar tidak diketahui oleh petugas kepolisian.

Dirpolair Polda Lampung,  Kombes Pol Rudi Hermanto, mengatakan petugasnya berupaya semaksimal mungkim untuk menangkap para pelaku atau nelayan yang menggunakan atat tangkap ilegal atau bom ikan yang tidak ramah lingkungan.

"Meskipun daya ledaknya rendah tetap saja melanggar hukum dan merusak,  seperti mematikan biota laut, telur ikan dan lain sebagainya,” ucap Rudi.

“Jika terbukti,  siapapun nelayan yang melanggar melakukan penangkapan ikan menggunakan bahan peledak maka  akan diproses sesuai dengan hukum yang berlaku, "ujar Rudi Hermanto beberapa hari lalu.

EDITOR

Dian Wahyu

TAGS


KOMENTAR