LAMPUNG dikenal sebagai daerah yang identik dengan satwa gajah. Tidak heran, beberapa lokasi seperti di Bandar Lampung, Pesawaran hingga Tanggamus dahulunya ternyata diketahui menjadi titik-titik perlintasan jejak sekelompok satwa berbelalai tersebut.

Seperti diungkapkan seorang pelaku sejarah yang kini berstatus sebagai pawang gajah atau mahout di Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Nazaruddin.



Ia menceritakan jejak gajah yang melintasi Betung—Sukadanaham—Umbulri, diketahui sekitar tahun 1986. Kala itu ada seorang anak kecil yang mengalami insiden tertabrak gajah saat pulang mengaji di sekitaran wilayah Gunung Betung.

Berawal dari insiden tersebut, kemudian dibentuk tim untuk mengevakuasi gajah-gajah tersebut berdasar pada surat dari pusat. Tim di antaranya terdiri dari Widodo Sukohadiramono yang kala itu menjabat sebagai kepala BKSDA II Sumbagsel yang kantornya berada di Lampung. Kemudian, ada Lie Pradukai, Senga Novawan, Suwanwok Cayapum, Sancay, Usman Sirot Umagul, Michel Priyono, Yuswo Wiyono, dan termasuk Nazaruddin.

Tepatnya pada 14 Agustus 1986, kata Nazaruddin, tim tersebut berhasil menangkap empat ekor gajah dari lokasi Gunung Betung, Sukadanaham, dan Umbulri. Gajah-gajah itu ditangkap dengan memakai sistem tradisional dan sistem tembak bius. "Kalau yang ditangkap tradisonal itu Umri dan Argo. Sedangkan gajah lainnya karena lokasi yang terjal sehingga tidak memungkinkan saat itu ditangkap memakai sistem tradisonal," ujarnya.

Pada 16 Agustus 1986, kata Nazaruddin, empat ekor gajah yang terdiri dari tiga betina dan satu jantan tersebut kemudian dibawa ke TNWK. Gajah-gajah tersebut kemudian dilatih dan diberi nama. Gajah betina dinamai Umri, Iweng, dan Tongkun. Sedangkan satu gajah jantan kala itu diberi nama Argo.

Menurut Nazaruddin, Argo sudah mati di perusahaan kayu Andalas Timber. Kemudian, Umri mati di Taman Safari Prigen, dan Iweng mati di Taman Satwa Bogor. "Sedangkan Tongkun masih hidup dan kini ada di Taman Safari Bogor. Usianya sekarang sudah sekitar 40 tahun lebih," ujar Nazaruddin di Bandar Lampung, Minggu (27/1).

Jejak Gajah

Nazaruddin menuturkan adanya jejak gajah di Gunung Betung—Sukadanaham—Umbulri tersebut diketahui tim dari bekas makan, kemudian pengamatan langsung, bekas kotoran gajah, hingga terjadinya konflik gajah dengan manusia.

Laju perkembangan pertumbuhan penduduk di sekitar wilayah tersebut, kata Nazaruddin, kemungkinan menjadi salah satu faktor habitat gajah terkikis dan kemudian masuk ke kawasan TNBBS. "Saya yakin dulu, di bawah tahun 1980-an, banyak gajah karena daerah ini (Betung—Sukadanaham—Umbulri) masih satu lintasan sehingga bisa masuk ke kawasan TNBBS," ujarnya.

Ia menambahkan pada Desember 1990 sampai Januari 1991, pihaknya kembali menemukan 12 ekor gajah di wilayah Padangcermin, Pesawaran. "Gajah-gajah itu kami bawa ke Way Kambas juga."

Setelah dalam kurun waktu tersebut atau 1991, sudah tidak lagi ditemukan jejak gajah di Gunung Betung—Sukadanaham—Umbulri. "Tahun 1991 itu jejak terakhir yang kita temukan ada 12 ekor di Padangcermin. Kalau jejak gajah di Mesuji terakhir tahun 1995. Sekarang (gajah) hanya ada di kawasan TNBBS dan Way Kambas. Di luar kawasan itu sudah tidak ada lagi," ujar Nazaruddin.

Ia menambahkan keturunan dari gajah-gajah tersebut salah satunya kemungkinan yang saat ini berada di Taman Wisata dan Taman Satwa Lembah Hijau, Lampung. "Gajah Aris dan Lis yang sekarang ada di Lembah Hijau kemungkinan masih keturunannya. Lis itu dari Padangcermin, kalau Aris keturunan gajah dari Padangcermin," kata Nazaruddin.

BERITA LAINNYA


EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR